Sabtu, 17 Januari 2026

Kak Seto: Batam Harus Jadi Kota Ramah Anak, Bukan Panggung Kekerasan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Seto Mulyadi. (jpg)

batampos – Jalanan Batam belakangan ramai oleh kabar yang tidak sedap. Tawuran pelajar dan balapan liar kembali marak, menyeret nama anak-anak dan remaja ke dalam sorotan publik. Seto Mulyadi, selaku Pemerhati Anak Nasional angkat bicara.

Bagi pria yang akrab disapa Kak Seto ini, Batam seharusnya menjadi kota yang aman dan ramah bagi anak, bukan panggung untuk aksi kekerasan dan adu nyali di jalanan.

Saat diwawancarai Batam Pos melalui pesan WhatsApp, Kak Seto menyampaikan bahwa perlu kampanye besar-besaran.

“Semua pihak harus turun tangan. Pemerintah, sekolah, orang tua, hingga tokoh masyarakat, semua punya peran,” tegasnya.

Baca Juga: 194 Kasus Kekerasan di Batam, 125 Korban adalah Anak Perempuan

Ia menyoroti kasus tawuran pelajar yang baru-baru ini terjadi di Batam, bahkan melibatkan alumni sekolah.

“Kalau sudah alumni, itu bukan anak-anak lagi. Maka prosesnya harus murni pidana sesuai undang-undang. Ketegasan seperti ini penting, agar menjadi pelajaran bagi yang lain dan tidak ada lagi yang membujuk adik kelasnya untuk ikut tawuran,” ucapnya.

Meski menekankan pentingnya penegakan hukum, Kak Seto mengingatkan bahwa langkah pencegahan tidak boleh hanya mengandalkan hukuman. Remaja, kata dia, adalah masa di mana energi dan semangat sedang meluap-luap. Jika tidak diarahkan, energi itu bisa lari ke hal-hal negatif, seperti tawuran atau balapan liar tadi.

“Maka kita harus menyediakan gelanggang remaja atau panggung kreatif. Di situ mereka bisa menyalurkan bakatnya, entah itu di bidang seni, olahraga, atau kegiatan lain yang membangun bakat yang positif,” jelasnya.

Baca Juga: Buron Setahun, Pelaku Penikaman Ditangkap Polisi saat Kembali ke Batam

Kak Seto menilai, banyak remaja yang terlibat tawuran sebenarnya berangkat dari perasaan gagal. Kebanyakan merasa bahwa prestasi hanya diukur dari nilai akademik. Padahal, cerdas itu bukan hanya pintar matematika, biologi, atau fisika.

“Ada anak yang cerdas menyanyi, menari, berolahraga. Semua itu harus diapresiasi. Kalau bakat mereka diakui, rasa percaya diri akan tumbuh, dan mereka tidak mencari pengakuan lewat jalan yang salah,” katanya.

Ia juga menyoroti perlunya pembatasan jam malam untuk remaja. Ia membayangkan, jika RT dan RW ikut berperan, maka setiap remaja yang berkeliaran larut malam bisa langsung diingatkan.

“Ini langkah sederhana, tapi efektif. Kita jaga anak-anak ini dari hal-hal yang tidak perlu,” ucapnya.

Dari sisi pendidikan, Kak Seto mendorong agar sekolah menciptakan suasana yang ramah anak. Guru, kata dia, sebaiknya menjadi sahabat, bukan sekadar pengajar yang hanya melihat nilai. Etika juga harus menjadi bagian penting dalam pendidikan.

“Kalau ada anak yang berperilaku baik, hargai itu, walaupun nilai pelajarannya biasa saja. Karena di luar sana, banyak anak pintar yang justru tidak memiliki etika,” ujarnya.

Baca Juga: Pohon Tumbang Tutup Total Jalan di Sekupang, Pengendara Terpaksa Putar Balik

Selain itu, ia menegaskan pentingnya menanamkan nasionalisme sejak remaja. Menurutnya, semangat menjaga NKRI harus tumbuh dari masa muda. Pemerintah, dinas pendidikan, guru, dan orang tua, semua harus bersatu.

“Pendidikan itu bukan hanya di sekolah. Di rumah, orang tua harus aktif berkomunikasi dan bekerja sama dengan guru. Jangan sampai anak frustasi karena tidak diakui keunikannya,” pesannya.

Kak Seto menyampaikan pesan khusus untuk para remaja di Batam. Ia mengingatkan bahwa mereka adalah calon pemimpin bangsa.

“Kalian yang akan memimpin Indonesia Emas 2045. Jangan sampai kita malah menjadi Indonesia Cemas atau Lemas karena perilaku yang tidak bertanggung jawab sejak dini.” (*)

 

Reporter: M. Sya’ban

Update