Minggu, 25 Januari 2026

Kasus IMS di Batam Capai 60, Didominasi Usia Produktif

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Sosialisasi program PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) oleh Dinkes, Puskesmas dan Komunitas di Tempat Hiburan Malam. F. Bidang P2P Dinkes Batam untuk Batam Pos

batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat sebanyak 60 kasus penyakit infeksi menular seksual (IMS) seperti gonore dan sifilis sepanjang tahun ini. Dari jumlah tersebut, mayoritas terjadi pada kelompok usia produktif, yakni 25 hingga 49 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Batam, dr. Didi Kusmarjadi, menyebutkan 36 dari total kasus merupakan laki-laki dan 24 lainnya perempuan. Kelompok usia 25–49 tahun menyumbang kasus terbanyak, yakni 36 orang, terdiri dari 24 laki-laki dan 12 perempuan.

“Ini menjadi perhatian serius karena kelompok usia produktif cenderung aktif secara sosial dan seksual. Potensi penularannya pun tinggi,” ujarnya, Kamis (17/7).

Selain itu, kelompok usia 20–24 tahun tercatat 13 kasus, disusul usia 15–19 tahun sebanyak 6 kasus, dan 5 kasus lainnya pada usia di atas 50 tahun. Tidak ditemukan kasus pada anak di bawah usia 14 tahun.

Didi menuturkan, Dinkes Batam terus menggencarkan edukasi dan pemeriksaan rutin melalui puskesmas serta klinik mitra. Layanan konseling dan tes IMS juga disediakan secara gratis bagi masyarakat yang merasa berisiko.

“Pemeriksaan dini penting untuk mencegah penularan lebih luas dan menghindari komplikasi. Masyarakat tidak perlu takut atau malu untuk memeriksakan diri,” tegasnya.

Untuk menekan penyebaran, Dinkes telah menyusun enam langkah strategis. Pertama, penyuluhan dilakukan secara masif di sekolah, lingkungan masyarakat, hingga lokasi berisiko seperti kawasan hiburan malam. Juga digalakkan program mentoring sebaya, khususnya bagi remaja dan pemuda.

Kedua, promosi dan distribusi kondom dilakukan di puskesmas serta titik strategis, disertai edukasi penggunaan yang benar.

Ketiga, pemeriksaan rutin digelar di seluruh puskesmas. Bagi kelompok berisiko tinggi seperti pekerja seks dan pelanggan tetap, diterapkan Perlakuan Presumtif Periodik (PPT).

Keempat, pelibatan tokoh masyarakat dan kelompok sebaya terus didorong untuk edukasi serta penghapusan stigma terhadap penderita IMS.

Kelima, vaksinasi HPV bagi remaja dan perempuan muda dilakukan sebagai pencegahan kanker serviks yang berkaitan dengan IMS. Vaksin hepatitis B juga diberikan kepada semua kelompok usia.

Keenam, penguatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan penanganan dan konseling IMS, serta sistem pelaporan yang lebih cepat dan terintegrasi.

“Kami harap semua elemen masyarakat aktif dalam pencegahan IMS. Edukasi, deteksi dini, dan kepedulian terhadap sesama adalah kuncinya,” pungkas Didi. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update