Rabu, 14 Januari 2026

Kasus Sifilis di Kalangan Remaja Batam Meningkat, Keluarga dan Sekolah Didorong Lebih Aktif Lindungi Generasi Muda

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam Didi Kusmarjadi.

batampos – Lonjakan kasus infeksi menular seksual (IMS), khususnya sifilis, di kalangan remaja di Kota Batam mulai memicu kekhawatiran berbagai pihak. Hingga Mei 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam mencatat 44 kasus sifilis, dengan lima di antaranya terjadi pada remaja usia 15 hingga 19 tahun.

Fakta ini mempertegas pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam memberikan edukasi serta perlindungan bagi generasi muda.

“Lima dari 44 kasus itu terdiri dari satu laki-laki dan empat perempuan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, Minggu (29/6).

Jumlah tersebut menunjukkan tren yang tak bisa diabaikan. Pada 2024 lalu, total kasus sifilis mencapai 71 orang, di mana sembilan di antaranya adalah remaja. Kini, meski tahun belum genap berjalan setengahnya, angka infeksi pada remaja nyaris menyamai total kasus tahun sebelumnya.

“Jika dilihat dari kecenderungan kasus di usia remaja, tahun ini bisa jadi meningkat,” ucap Didi.

Didi mengungkapkan, peningkatan ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kurangnya edukasi tentang kesehatan reproduksi, perilaku seksual berisiko, hingga akses layanan kesehatan yang belum sepenuhnya ramah terhadap remaja.

“Kasus IMS pada remaja 15-19 tahun mencerminkan gabungan faktor seperti minimnya pengetahuan tentang seksualitas, komunikasi keluarga yang tertutup, serta layanan kesehatan yang belum sepenuhnya akomodatif bagi anak muda,” jelasnya.

Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Batam telah menerapkan sejumlah strategi seperti penyuluhan kesehatan reproduksi dan keterampilan hidup (life skills) di lingkungan sekolah, pelatihan komunikasi efektif bagi orang tua, serta penyediaan layanan konseling, skrining IMS, vaksinasi, dan penjaminan kerahasiaan pasien di puskesmas.

Namun Didi menegaskan, upaya pemerintah daerah saja tidak cukup. Ia menilai peran keluarga dan institusi pendidikan harus diperkuat agar remaja memiliki pemahaman dan kontrol diri yang lebih baik terhadap kesehatan seksual mereka.

“Peran keluarga dan sekolah sangat menentukan. Edukasi harus dimulai dari rumah. Sayangnya, ini belum menjadi kebiasaan di banyak keluarga kita,” tegasnya.

Pernyataan serupa disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher. Ia menyebut peningkatan kasus sifilis bukan sekadar persoalan medis, melainkan cerminan dari lemahnya sistem perlindungan terhadap remaja di tingkat keluarga, masyarakat, dan negara.

“Peningkatan kasus sifilis ini bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi juga mencerminkan kelemahan sistem perlindungan terhadap generasi muda,” ujar Netty, Minggu (22/6).

Menurutnya, negara harus hadir lebih kuat dalam membekali anak muda dengan pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif dan mudah dipahami. Ia juga mendorong agar layanan deteksi dini sifilis dapat tersedia secara rahasia dan gratis di Puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya, agar remaja tidak takut memeriksakan diri.

“Remaja harus merasa aman untuk bertanya dan mencari bantuan. Kita juga perlu membangun ketahanan keluarga agar anak memiliki nilai dan pegangan moral yang kuat sejak dini,” ucapnya.

Secara nasional, Kementerian Kesehatan RI mencatat lebih dari 4.500 kasus IMS terjadi pada kelompok usia 15–19 tahun sepanjang 2024, dengan sekitar 2.191 kasus atau 48 persennya adalah sifilis. Data ini menandakan bahwa generasi Z tengah berada dalam situasi rentan dan membutuhkan perlindungan ekstra dari berbagai lini.

Dengan melihat perkembangan ini, semua pihak diharapkan bisa bergerak bersama, mulai dari pemerintah, keluarga, sekolah, hingga komunitas masyarakat. Tanpa keterlibatan aktif semua unsur, remaja akan terus menjadi kelompok rentan terhadap ancaman penyakit menular seksual. (*)

 

Reporter: Rengga Yuliandra

Update