Jumat, 9 Januari 2026

Kasus Tekanan Darah Tinggi pada Anak dan Remaja Meningkat, Dinkes Batam Soroti Konsumsi Natrium Berlebih

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Dinkes Kota Batam terus menggencarkan program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) bagi pelajar di seluruh jenjang pendidikan. Program ini menyasar seluruh siswa aktif dari tingkat SD hingga SMA sederajat, dengan target sebanyak 200 ribu siswa. Foto. Rengga Yuliandra/ Batam Pos

batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam menyoroti mengonsumsi Natrium secara berlebih sebagai salah satu penyebab meningkatnya kasus tekanan darah tinggi pada anak-anak dan remaja.

Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi menyampaikan hal ini terungkap dari hasil skrining kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar di sekolah-sekolah.

“Banyak yang kami temukan dengan tekanan darah tinggi dan berisiko anemia, namun justru ini menunjukkan bahwa CKG sangat bermanfaat dalam melakukan skrining kesehatan pada remaja dan anak-anak,” katanya kepada Antara, Selasa (26/8).

Baca Juga: Gaya Hidup dan Tekanan Sosial Picu Gangguan Psikis Kalangan Remaja di Batam

Deteksi dini ini penting, kata dia, karena memberi kesempatan untuk melakukan intervensi lebih cepat, baik berupa konseling, edukasi, maupun rujukan ke layanan kesehatan.

Ia menjelaskan, skrining kesehatan terkait kesehatan jantung dan darah meliputi tiga indikator utama, yakni tekanan darah, kadar gula darah, dan nilai hemoglobin (Hb).

Dari hasil pemeriksaan, pola konsumsi makanan, khususnya yang tinggi Natrium, menjadi faktor utama yang memicu tekanan darah tinggi pada anak.

Dokter Puskesmas Belakangpadang, Vanny, menambahkan, anak-anak di wilayah pulau memiliki risiko lebih tinggi karena pola makan yang cenderung asin.

“Makanan di pulau banyaknya asin, seperti kepiting, gonggong, dan sotong. Walaupun tidak diberi garam tambahan, daging hewan laut itu sudah bernatrium tinggi dan berkolesterol. Konsumsi berlebih bisa meningkatkan risiko hipertensi,” kata dia.

Baca Juga: Rawan Perdagangan Orang, Mabes Polri Minta Polresta Barelang Sigap dan Responsif Tangani TPPO

Selain tekanan darah, pola hidup yang kurang aktif juga berkontribusi pada tingginya kadar gula darah pada anak.

“Seorang anak sebaiknya beraktivitas fisik lebih dari satu jam, minimal lima kali dalam seminggu. Kalau kurang, risikonya semakin besar,” ujarnya.

Sementara itu, anemia juga menjadi masalah yang ditemukan pada remaja, terutama perempuan yang sudah mulai menstruasi.

“Anemia seharusnya tidak terjadi pada remaja karena darah sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan. Namun pola makan tinggi lemak, karbohidrat, dan gorengan dapat memicu risiko kista maupun minum yang menyerap darah tersebut,” kata dia.

Dinkes Batam menegaskan bahwa hasil skrining ini menjadi dasar untuk menyusun program pencegahan dan pembinaan kesehatan remaja yang lebih tepat sasaran. (*)

Update