Minggu, 1 Februari 2026

Kebutuhan Air Batam Meningkat, Kapasitas Sistem Penyedia Tertinggal

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi.

batampos – Pada pertengahan tahun 2024, jumlah pelanggan air di Batam mencapai sekitar 320.528, mengalami lonjakan signifikan dibandingkan dengan 280 ribu pelanggan pada tahun 2021. Peningkatan sebanyak 37 ribu pelanggan ini turut mengangkat permintaan air bersih hingga mencapai tambahan 370 liter per detik (lps).

Namun, meskipun jumlah pelanggan meningkat drastis, kapasitas terpasang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Batam tetap tidak berubah sejak 2015, bertahan di angka 3.600 lps. Bahkan, meski pada Agustus 2023 BP Batam menambah kapasitas SPAM sebesar 350 lps di Muka Kuning 2 (MK2), kapasitas ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan yang semakin bertambah.
Saat ini, Batam mengalami defisit air sekitar 300 lps, yang mengakibatkan gangguan distribusi air menjadi masalah besar. Bahkan gangguan sekecil apapun pada sistem Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) dapat langsung berdampak pada pasokan air bagi pelanggan.
Untuk mengatasi kekurangan pasokan air tersebut, konsorsium air bersih yang terdiri dari berbagai pihak telah memulai pembangunan dua instalasi baru.
Instalasi Pengolahan Air (IPA) 500 lps di Duriangkang dan 230 lps di Tembesi telah selesai. Dari situ, Batam memiliki surplus air sebesar 230 lps, yang diperkirakan akan cukup untuk memenuhi kebutuhan kota hingga akhir 2025.
“Proyek ini akan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan air bersih di Batam, mengingat tren pertumbuhan jumlah pelanggan yang pesat,” kata Corporate Communications PT Air Batam Hilir (ABH), Ginda Alamsyah.
Selain pembangunan IPA baru, ABH juga fokus pada perbaikan fasilitas IPAM eksisting yang sudah mulai menua. Pemeliharaan pompa, filter, dan sistem perpipaan yang sudah usang akan dilakukan agar gangguan distribusi air dapat diminimalisir.
Namun, meski upaya perbaikan dilakukan, gangguan tak terhindarkan. Salah satu gangguan terbesar terjadi pada awal Juni 2024 akibat masalah kelistrikan.
Gangguan listrik parah yang disebabkan oleh pembangunan infrastruktur mengganggu suplai listrik ke Duriangkang, yang berimbas pada kapasitas air yang terbatas. Pemulihan pun memakan waktu hingga seminggu, terutama di daerah-daerah yang terisolasi dan berada di ketinggian, seperti Marina, Pulau Buluh, dan Bukit Raya.
Kebocoran pipa juga menjadi masalah lain yang sering mengganggu distribusi air. Salah satunya terjadi di median jalan yang dicor di sekitar Perumahan Happy Garden tempo lalu. Pencarian lokasi kebocoran membutuhkan waktu lama dan menyebabkan terganggunya lalu lintas utama di kawasan tersebut.
Untuk mengatasi kebocoran pipa agar tak terjadi lagi, solusi yang diterapkan adalah dengan mengebor di bawah jalan untuk mengakses pipa utama yang terputus. Metode ini meminimalkan kerusakan dan mempercepat proses perbaikan.
Di samping itu, kebocoran pipa juga terjadi di lima titik sepanjang jalan Raden Fatah pada Juni 2024 lalu. Posisi pipa yang terbenam di bawah jalan yang dicor memperburuk situasi, menyebabkan gangguan yang cukup lama.
Sebagai langkah pencegahan, ABH terus berupaya untuk memperbaiki dan memperbaharui infrastrukturnya, termasuk mengganti pipa-pipa lama dan meningkatkan kapasitas IPAM agar lebih efisien dalam memenuhi kebutuhan air di Batam.
“Kami berkomitmen untuk memastikan pasokan air yang stabil dan cukup bagi seluruh pelanggan di Batam, meski tantangan yang kami hadapi cukup besar. Ke depan, dengan adanya pembangunan IPA baru dan perbaikan fasilitas yang ada, kami berharap dapat mengurangi gangguan dan memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat Batam dengan lebih baik,” ujarnya. (*)
Reporter: Arjuna

Update