
batampos – Kecelakaan maut di pertigaan Tiban Center, Sabtu (30/8), menjadi tamparan keras bagi pemerintah dan aparat penegak hukum. Insiden yang melibatkan mobil crane itu kembali membuka mata banyak pihak bahwa pengawasan serta penertiban kendaraan berat di Batam masih lemah. Warga pun mendesak tindakan tegas demi keselamatan bersama.
Menurut warga, aktivitas kendaraan berat di jalan raya kian padat, terutama di kawasan Batuaji, Sagulung, Marina City, hingga Tanjung Uncang. Kondisi ini membuat jalan umum semakin rawan kecelakaan, terlebih banyak kendaraan melintas tanpa pengawalan meski membawa muatan berisiko tinggi.
“Setiap hari trailer dan truk besar melintas, muatannya kadang besi-besi raksasa. Tingginya sampai menabrak plang penanda JPO, tapi tetap dibiarkan tanpa pengawalan. Ini sangat membahayakan pengguna jalan lain,” ujar Sujono, warga Batuaji, Minggu (31/8).
Di Marina City, permasalahan serupa juga dikeluhkan warga. Jalan sempit dengan satu jalur dua lajur kerap macet parah akibat kendaraan berat. “Kalau mogok atau melaju pelan, arus lalu lintas bisa lumpuh total. Kami sudah lama mengeluhkan ini. Harus ada penertiban,” kata Nurdin, warga setempat.
Selain kepadatan lalu lintas, perilaku sopir kendaraan berat yang kerap melaju dengan kecepatan tinggi turut meresahkan. “Ngebut tanpa pengawalan, itu yang paling berbahaya. Kalau hilang kendali, korbannya bisa banyak,” imbuh Sujono.
Masyarakat menilai, solusi yang dibutuhkan tidak cukup hanya menindak sopir ugal-ugalan. Mereka mendesak adanya regulasi tegas mengenai jam operasi, rute khusus, hingga kewajiban pengawalan bagi kendaraan bermuatan besar atau berisiko tinggi. “Harus ada aturan yang jelas, jangan menunggu korban terus berjatuhan,” tegas Nurdin.
Sebelumnya, Kasubdit I Satlantas Polresta Barelang, Iptu Andika, mengakui pihaknya sedang mengevaluasi pengawasan kendaraan berat pascakecelakaan di Tiban Center. “Kami mengumpulkan data dan akan merekomendasikan langkah pengawasan lebih ketat,” ujarnya.
Kasatlantas Polresta Barelang, Kompol Afiditya Arief, menambahkan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengkaji jalur dan mekanisme pengawalan kendaraan besar. “Kami juga masih memburu sopir truk yang melarikan diri,” tegasnya.
Warga berharap pemerintah kota, kepolisian, dan pengelola kawasan industri duduk bersama untuk mengatur distribusi kendaraan berat secara lebih aman. “Kami ingin merasa tenang saat berkendara. Jangan biarkan jalan umum jadi jalur maut,” ucap Sujono.
Tragedi di Tiban Center menjadi peringatan keras bahwa pengabaian keselamatan tak bisa lagi ditoleransi. Penertiban dan pengawasan kendaraan berat kini bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak demi melindungi nyawa warga Batam. (*)
Reporter: Eusebius Sara



