Minggu, 25 Januari 2026

Keluhkan Menu MBG, Junita Mengaku Diintimidasi Pihak Sekolah, Kepala Sekolah Membantah

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan di SDN 001 Batuaji. Foto. Eusebius Sara/ Batam Pos

batampos – Unggahan seorang ibu rumah tangga soal kualitas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 001 Batuaji mendadak berbuntut panjang. Junita, orang tua siswa kelas IV di sekolah tersebut, mengaku mendapat tekanan dan intimidasi dari pihak sekolah setelah menyampaikan keluhannya lewat media sosial.

Menurut Junita, unggahan yang ia buat pada Selasa malam (23/9) hanya berisi masukan agar kualitas makanan dalam program MBG ditingkatkan.

“Saya cuma posting soal menu MBG yang menurut saya kurang pas. Tujuannya supaya ada perbaikan. Tapi ternyata reaksi sekolah berlebihan,” ujarnya saat ditemui, Rabu (24/9).

Baca Juga: SDN 001 Batuaji Pastikan Menu MBG Sesuai Standar Gizi

Keesokan harinya, ia mengaku menerima kabar bahwa anaknya dipanggil guru dan disebut sedang dicari kepala sekolah. Junita lantas diminta datang ke sekolah dan dihubungi melalui komite sekolah.

Namun bukan dialog yang ia terima. Junita menyebut situasi di ruang kepala sekolah berlangsung dalam tekanan. Ia bahkan merasa terancam secara verbal oleh kepala sekolah.

“Pak Ravios marah besar, katanya saya mencemarkan nama baik sekolah. Bahkan sempat ada gerakan seolah mau melempar benda di meja ke saya. Anak saya juga diancam mau dikeluarkan,” katanya dengan nada kecewa.

Tak hanya itu, Junita mengaku diminta membuat klarifikasi di media sosial dan mencabut unggahan sebelumnya. Tapi ia menolak.

“Saya tidak menjelekkan sekolah. Saya cuma ingin anak-anak kita dapat makanan yang lebih baik. Masa niat baik seperti itu harus ditekan?” ujarnya.

Junita bahkan mengklaim sempat mendapat ancaman akan dibawa ke jalur hukum jika tidak membuat klarifikasi.

“Saya diancam akan diproses hukum. Padahal saya cuma posting menu makan anak-anak. Apa salahnya menyuarakan pendapat?” katanya.

Kepala SDN 001 Batuaji, Ravios, membantah keras telah melakukan intimidasi. Ia mengakui sempat emosi karena menurutnya sudah ada arahan sebelumnya agar keluhan disampaikan langsung ke sekolah, bukan dipublikasikan di media sosial.

“Saya memang marah, karena sebelumnya sudah disampaikan, kalau ada keluhan, langsung ke sekolah. Jangan main medsos. Tapi tidak ada intimidasi,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pihak sekolah tidak punya kuasa mengatur menu MBG. Semua menu ditentukan oleh pihak Satuan Pendidikan Pelaksana Gizi (SPPG).

“Menu ditentukan SPPG, bukan sekolah. Makanan dikaji oleh dua ahli gizi, dan menunya berganti tiap hari,” jelas Ravios.

Ketua pelaksana MBG di sekolah tersebut, Budiono, juga menyebut menu yang diberikan kepada siswa sudah memenuhi standar gizi sesuai arahan program dari Kementerian.

Kasus ini menyedot perhatian karena menyangkut dua hal krusial: cara sekolah merespons kritik dan keterbukaan terhadap masukan warga atas program pemerintah. Banyak yang menilai, mestinya masukan seperti itu ditanggapi dengan dialog, bukan tekanan.

Junita sendiri berharap, peristiwa ini bisa menjadi pelajaran. Ia menegaskan tak pernah berniat menjatuhkan nama baik sekolah.

“Saya orang tua murid, anak saya sekolah di situ. Kenapa saya ingin menjatuhkan sekolah? Saya cuma ingin makanan yang lebih baik buat anak-anak. Itu saja,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update