
batampos – Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam, Budi Dermawan, angkat suara terkait dugaan kekerasan yang menimpa seorang siswa madrasah negeri di kawasan Bengkong, Batam. Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukanlah bentuk pengeroyokan seperti yang ramai dibicarakan.
“Kita sudah dapat informasi, dan itu bukan pengeroyokan,” ujar Budi, Selasa (27/5).
Budi menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi sekitar sebulan yang lalu dan melibatkan sesama siswa. Meski demikian, ia menyayangkan insiden itu dan menilai perlunya langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa, khususnya di lingkungan asrama.
“Dengan kejadian ini, maka kami akan meningkatkan peran pengasuh. Pengasuh harus betul-betul hadir di tengah-tengah anak-anak, menjadi pendamping yang aktif. Kami juga akan mengaktifkan berbagai kegiatan yang bernuansa kebersamaan, seperti pengajian, yasinan, dan kegiatan positif lainnya,” jelasnya.
Baca Juga: Siswa Madrasah Negeri di Bengkong Diduga Dianiaya Senior, Kasat Reskrim: Bukan Pengeroyokan
Menurutnya, anak-anak di asrama memiliki waktu luang yang cukup banyak di luar jam pelajaran. Jika tidak diisi dengan kegiatan bermanfaat, hal-hal negatif seperti perundungan (bullying) dan kekerasan bisa terjadi.
“Ini persoalan kecil, tetapi bisa jadi besar jika tidak ditangani. Kita maklum, anak-anak masih berada dalam usia dengan tingkat emosi yang labil. Maka pendampingan dari pihak madrasah, khususnya pengasuh asrama, sangat penting. Kita yang harus mengarahkan mereka,” tegas Budi.
Pihaknya juga akan menyusun program tahunan khusus bagi kehidupan di asrama. Program ini ditujukan untuk memastikan waktu anak-anak terisi dengan kegiatan positif, istirahat cukup, serta pembinaan akhlak.
“Kita ingin waktu yang ada di asrama digunakan sebaik mungkin. Tidak terlalu banyak waktu kosong. Ini penting agar anak-anak bisa berkembang secara utuh, tidak hanya akademik, tetapi juga karakter dan sosialnya,” katanya.
Lebih jauh, Budi menyampaikan bahwa Kemenag akan menguatkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai pendamping Kurikulum Merdeka di madrasah-madrasah di Batam.
“KBC ini akan kita wujudkan di dunia pendidikan. Tujuannya adalah membangun hubungan antarsiswa yang penuh kepedulian, gotong royong, kasih sayang, dan saling melindungi. Nilai-nilai ini yang harus terus ditanamkan,” jelasnya.
Tak hanya untuk siswa, KBC juga ditujukan kepada para pendidik. Guru diminta membangun hubungan yang bukan hanya bersifat profesional, tetapi juga emosional seperti layaknya orang tua bagi anak-anak di sekolah.
“Pendidik harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap siswa, tidak hanya sebagai guru tetapi juga sebagai pembimbing dan pelindung. Dengan pendekatan itu, suasana pendidikan akan lebih kondusif dan kekerasan bisa dicegah,” pungkasnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Barelang, AKP Debby Tri Andrestian, menyampaikan bahwa pihaknya masih mendalami laporan kasus tersebut.
“Sampai dengan saat ini, hasil penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi belum menunjukkan bahwa korban benar-benar dikeroyok,” kata Debby. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



