
batampos – Kerusuhan yang terjadi di Kampung Kolam, Teluk Bakau, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, pada Minggu (20/4), menyebabkan lima orang luka-luka. Namun, banyak warga sekitar mengaku tidak mengetahui secara langsung peristiwa tersebut.
“Saat kejadian Minggu kami tidak tahu, karena sedang ibadah Paskah,” ujar Lia Purba, salah satu warga Kampung Kolam, saat ditemui, Senin (21/4).
Meski demikian, menurut Lia, sehari sebelumnya, Sabtu (19/4), juga sempat terjadi keributan antara warga dan pihak perusahaan PT CTP. Kericuhan bermula ketika sejumlah pekerja perusahaan hendak menimbun kolam yang berada di area permukiman warga, namun aksi itu dihalangi warga. Salah satu warga, Nur Simbolon, bahkan nyaris tertimbun saat mencoba menghadang truk bermuatan pasir yang hendak membuang muatan ke kolam.
“Kalau kejadian Minggu saya tidak tahu, tapi kalau Sabtu adik saya jadi korban, nyaris tertimbun tanah karena menghalangi penimbunan kolam,” lanjut Lia.
Menurut Lia, warga yang masih bertahan di lokasi belum menerima uang sagu hati dari perusahaan. Bahkan, ia mengaku belum pernah sekalipun didatangi oleh pihak PT CTP.
“Satu RT ada sekitar 200 rumah yang masih bertahan. Di Kampung Kolam sendiri masih ada 35 rumah yang belum dibayar sepeser pun,” tegasnya.
Lia menyebutkan bahwa konflik penggusuran sudah berlangsung selama tiga tahun. Ia dan warga lainnya kerap mengalami intimidasi dari pihak perusahaan, mulai dari pemotongan pohon hingga penimbunan kolam.
“Kolam itu sumber air kami. Setiap hari pihak perusahaan datang untuk melakukan aktivitas tanpa penjelasan. Kami sudah berkali-kali melarang agar kolam jangan dulu ditimbun, karena letaknya berdekatan dengan sumur dan masih ada warga yang tinggal di sekitar situ,” ujarnya.
Lia menegaskan bahwa warga tidak keberatan untuk pindah, asalkan perusahaan memberikan kompensasi yang layak dan adil sesuai kondisi rumah mereka.
“Kami tidak minta banyak, hanya sesuai hati. Selama ini perusahaan menawari satu-satu, jadi banyak warga yang tidak kebagian. Jujur, kami tidak masalah pindah, asal layak,” katanya.
Senada dengan Lia, Nur Simbolon 41 warga yang nyaris menjadi korban tertimbun tanah, mengaku sudah tinggal di lokasi tersebut selama 12 tahun. Ia nekat menghalangi truk penimbun kolam karena kolam itu merupakan sumber air utama bagi warga. Akibat kejadian itu, sebagian tubuh Nur sempat tertimbun dan mengalami nyeri.
“Saya tak pikirkan apa-apa lagi, yang penting kolam jangan ditimbun. Itu sumber air kami.Sakitnya tidak sebanding dengan rasa dipaksa keluar dari rumah. Saya sempat dipijat, sekarang sudah agak mendingan,” ungkapnya.
Sementara, Kapolsek Nongsa, Kompol Efendri Alie mengatakan pasca kejadian, lokasi tidak terdapat adanya aktifitas.
“Kami pantau dan patroli lokasi atau Tkp sementara NIHIL aktivitas,” pungkasnya. (*)
Reporter: Yashinta



