Selasa, 27 Januari 2026

Kurikulum Berbasis Cinta, Inovasi Kemenag Batam Tekan Perundungan di Dunia Pendidikan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kurikulum Berbasis Cinta.

batampos – Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai inovasi dalam sistem pendidikan keagamaan, khususnya di sekolah-sekolah di bawah naungan mereka. Kurikulum ini dirancang untuk memperkuat pendidikan karakter dan mencegah berbagai bentuk kekerasan, termasuk perundungan yang kerap terjadi di lingkungan sekolah.

Kepala Kemenag Batam, Budi Dermawan, menjelaskan bahwa KBC bukan sekadar respons terhadap kasus kekerasan, melainkan bagian dari upaya jangka panjang untuk membangun ekosistem pendidikan yang sehat, inklusif, dan penuh kasih sayang.

“Kurikulum ini mengajarkan nilai-nilai universal seperti kasih sayang, saling menghormati, empati, dan gotong royong. Tidak hanya untuk siswa, tetapi juga untuk guru dan seluruh ekosistem sekolah,” kata Budi, Rabu (11/6).

KBC merupakan gagasan dari Kemenag RI yang bertujuan membentuk hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan, antar-sesama, serta dengan lingkungan. Dalam implementasinya, Kemenag Batam akan menyertakan kegiatan yang membangun kedekatan emosional, seperti permainan kelompok, simulasi pemecahan masalah, hingga penguatan spiritual melalui pengajian dan istighatsah.

Budi mengatakan bahwa inovasi ini juga mendorong perubahan cara pandang guru dalam mendidik. “Guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembimbing karakter. Mereka harus mampu membangun kedekatan emosional dengan siswa,” ujarnya.

Sebagai tahap awal, KBC akan mulai diimplementasikan secara terbatas di dua sekolah berasrama, yakni MAN 1 Batam dan MTsN 1 Batam, pada tahun ajaran 2025/2026. Kedua sekolah ini memiliki sekitar 50 siswa yang tinggal di asrama dan menjadi fokus pembinaan karakter intensif.

“Melalui KBC, kami ingin menciptakan iklim pendidikan yang ramah, aman, dan bebas kekerasan. Pendidikan seharusnya membentuk manusia yang utuh, tidak hanya cerdas, tapi juga berkarakter dan memiliki empati,” tambahnya.

Langkah ini diharapkan dapat menjadi model nasional dalam mendorong transformasi pendidikan keagamaan yang lebih manusiawi dan berdampak positif bagi pembentukan generasi muda. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update