
batampos – Maraknya pembangunan di sejumlah wilayah Kota Batam, terutama di Batuaji, Sagulung, dan Marina Kelurahan Tanjung Riau, Kecamatan Sekupang, semakin menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Penimbunan lahan yang sebelumnya merupakan kawasan resapan air dan penyempitan aliran sungai dituding menjadi penyebab utama meningkatnya intensitas banjir belakangan ini.
Masyarakat di sejumlah kawasan tersebut menilai aktivitas pembangunan yang tidak mempertimbangkan aspek lingkungan harus segera dievaluasi ulang. Selain berdampak pada ekosistem, pembangunan tersebut juga dinilai sebagai pemicu utama terjadinya banjir dan genangan air, seperti yang terjadi di beberapa titik pemukiman.
Salah satu wilayah yang menjadi sorotan adalah kawasan Marina, termasuk Perumahan Beni Raya. Kawasan ini sempat mengalami banjir besar beberapa waktu lalu yang bahkan memerlukan penurunan tim evakuasi. Warga menilai pembangunan yang terlalu padat di sekitar lokasi pemukiman telah mengganggu aliran air dan merusak area resapan alami yang ada.
“Banyak sekali pembangunan di sini. Ada reklamasi, ada juga penimbunan kawasan sungai. Ini yang jadi masalah dengan banjir yang semakin parah dari waktu ke waktu,” ungkap Surya, warga Marina, kepada wartawan.
Tak hanya di Marina, proyek pematangan lahan di belakang pemukiman Kavling Plus Seitemiang juga menuai protes. Aktivitas penimbunan di lokasi tersebut bahkan sempat merusak jembatan dan akses jalan warga saat hujan deras mengguyur di awal Januari lalu. Hingga kini, proyek tersebut masih terus berjalan, dan masyarakat semakin menyoroti dampaknya terhadap lingkungan.
Menanggapi keluhan warga, pihak kelurahan setempat telah menyampaikan laporan kepada Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam untuk segera melakukan pengawasan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa proyek-proyek tersebut telah memiliki izin yang sesuai dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan lebih lanjut.
Warga berharap pemerintah kota bertindak cepat dan tegas dalam menyikapi persoalan ini. Mereka khawatir, jika kawasan resapan air terus berkurang, maka risiko bencana banjir akan semakin besar di masa depan. “Ini dampaknya luar biasa nanti kalau semua kawasan resapan air ditimbun. Mohon ini ditindaklanjuti,” kata Mame, warga Kavling Plus.
Selain di Marina, kondisi serupa juga dialami warga di wilayah Sagulung dan Batuaji. Di sana, banyak aktivitas pematangan lahan yang berlangsung intensif tanpa memperhatikan dampak lingkungan. Salah satunya adalah di Tanjunguncang, yang kini menjadi kawasan padat dengan proyek pemotongan bukit dan penimbunan pesisir untuk keperluan industri galangan kapal.
Warga mengeluhkan, pemukiman mereka kerap dilanda banjir, baik akibat hujan deras maupun saat air laut pasang. Air yang seharusnya mengalir ke laut justru kembali menggenangi kawasan pemukiman akibat tidak adanya jalur aliran yang memadai. “Banjir sekarang bukan cuma karena hujan, tapi juga karena air laut pasang. Rumah kami sering terendam,” keluh Ahmad, salah satu warga Tanjunguncang.
Dengan makin luasnya pembangunan tanpa perencanaan lingkungan yang matang, masyarakat mendesak agar pihak berwenang segera turun tangan. Mereka berharap ada regulasi yang ketat dan pengawasan langsung dari pemerintah agar pembangunan di Batam tidak menjadi bumerang yang merugikan warga. (*)
Reporter: Eusebius Sara



