
batampos – Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi VI DPR RI dan BP Batam, Rabu (1/10), berlangsung dalam suasana penuh sorotan. Anggota dewan membandingkan langsung cara kerja pimpinan BP Batam saat ini dengan kepemimpinan sebelumnya, khususnya menyangkut penanganan birokrasi dan proyek strategis nasional seperti Rempang.
Anggota Komisi VI, Mufti Anam, secara terbuka menyinggung kasus penyidikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang sempat menyeret BP Batam dalam penyelidikan Kejaksaan Tinggi Kepri pada 2018–2021. Bagi Mufti, kasus itu adalah potret kekacauan manajemen Batam di masa lalu.
“Kita ini dekat sekali dengan Singapura. Harusnya bisa jauh lebih maju. Tapi dulu malah kalah saing, karena pemimpinnya tidak mau diajak maju,” ujar Mufti, lugas.
Baca Juga: Li Claudia Turun ke Rempang, Rumah Baru, Sekolah Baru, dan Harapan Baru untuk Warga Rempang
Namun, nada kritik itu kemudian berubah menjadi apresiasi. Mufti menyebut duet Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra, yang baru beberapa bulan menjabat Kepala dan Wakil Kepala BP Batam, menunjukkan arah berbeda dari para pendahulunya.
“Kami melihat kesungguhan dari panjenengan untuk membawa Batam ke arah yang lebih baik,” ucapnya.
Salah satu momen yang disorot Mufti adalah kehadiran langsung Li Claudia ke Rempang seusai rapat sehari sebelumnya. Ia menyebut, langkah itu membantah narasi bahwa pejabat Batam hanya duduk di balik meja.
“Apa yang saya sampaikan kemarin berbeda dengan yang saya lihat langsung di lapangan,” kata Mufti.
Pernyataan itu direspons langsung oleh Li Claudia. Dalam forum resmi parlemen, ia menegaskan pendekatan relokasi Rempang tidak dibangun di atas paksaan.
“Mau pindah, pindah. Tidak mau pindah, tidak apa-apa,” ujarnya dengan suara tegas.
Li Claudia juga mengundang anggota Komisi VI untuk turun langsung ke Rempang, agar bisa melihat dan merasakan kondisi sebenarnya.
“Jangan cuma membaca laporan. Di lapangan, hubungan kami dengan warga justru makin erat. Tidak ada pemaksaan,” tambahnya.
Pernyataan Li Claudia menjadi penanda penting bahwa kepemimpinan baru di BP Batam mencoba membangun politik kepercayaan di tengah pro dan kontra relokasi Rempang. Isu yang sempat memanas tahun lalu kini menjadi medan uji pertama bagi duet Amsakar–Claudia.
Di satu sisi, mereka dibebani target besar: mendatangkan investasi dan menyukseskan Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco City. Namun di sisi lain, mereka juga harus meredam ketegangan sosial yang masih terasa di lapangan.
“Kami berusaha menjaga keseimbangan itu,” ujar Claudia.
Sejumlah pihak menilai, bagaimana cara BP Batam menuntaskan persoalan Rempang akan menentukan arah institusi ke depan, apakah hanya perpanjangan tangan rezim lama, atau benar-benar membawa perubahan yang selama ini dijanjikan. (*)
Reporter: Arjuna



