
batampos – Kasus infeksi menular seksual (IMS) di Kota Batam terus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Hingga September 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat sebanyak 99 kasus IMS ditemukan di berbagai kelompok usia. Angka tersebut menunjukkan bahwa penyakit ini masih mengintai masyarakat, terutama di kalangan usia produktif yang aktif secara seksual.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan bahwa sebagian besar kasus ditemukan pada kelompok lelaki seks lelaki (LSL) dan wanita pekerja seks (WPS). Kelompok ini disebut sebagai populasi kunci dalam penularan IMS karena memiliki tingkat mobilitas dan aktivitas seksual yang tinggi.
“Dinkes bersama puskesmas selalu diundang oleh hotspot atau lokasi yang menjadi titik kumpul kelompok rentan untuk melakukan sosialisasi dan skrining kesehatan. Tujuannya mencegah penularan dan memutus mata rantai penyakit menular seksual,” ujar Didi, Kamis (23/10).
Baca Juga: Kemenag Batam Ingatkan Risiko Umrah Mandiri: Tak Ada Asuransi, Tak Dapat Perlindungan Resmi
Data Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa dari total 99 kasus IMS tahun ini, 59 di antaranya terjadi pada laki-laki, sedangkan 40 kasus lainnya pada perempuan.
Kelompok usia 25–49 tahun menjadi yang paling banyak terpapar, yakni 38 kasus laki-laki dan 22 kasus perempuan.
Kemudian diikuti oleh kelompok usia 20–24 tahun sebanyak 24 kasus (14 laki-laki dan 10 perempuan), kelompok remaja 15–19 tahun sebanyak 9 kasus, serta usia di atas 50 tahun sebanyak 6 kasus. Tidak ditemukan kasus pada kelompok usia di bawah 14 tahun.
“Kelompok usia produktif memang paling rentan, karena di usia ini aktivitas seksual tinggi, tapi kesadaran untuk menjaga perilaku seksual yang aman masih rendah,” jelas Didi.
Didi menyebutkan, masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri karena rasa malu dan stigma negatif terhadap penyakit menular seksual. Padahal, semakin lama seseorang menunda pemeriksaan, risiko penularan ke pasangan atau orang lain semakin tinggi.
“Padahal pemeriksaan di puskesmas itu bersifat rahasia. Kami tidak menghakimi, justru ingin membantu agar masyarakat bisa sembuh dan tidak menularkan ke orang lain,” ujarnya.
Baca Juga: Dua Tersangka Korupsi PNBP BP Batam Dilimpahkan ke Jaksa
Ia menegaskan bahwa penanganan IMS tidak bisa hanya dilakukan oleh tenaga medis, tetapi juga memerlukan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat.“Pemeriksaan rutin, penggunaan alat pelindung diri, dan kesetiaan pada pasangan menjadi langkah penting untuk menekan angka penularan,” tambahnya.
Didi berharap, masyarakat tidak ragu untuk datang ke puskesmas, terutama bila mengalami gejala seperti luka di area genital, rasa nyeri saat buang air kecil, atau keluarnya cairan tidak normal dari organ intim.
“Kami mendorong agar masyarakat tidak takut memeriksakan diri. Dengan deteksi dini, pengobatan bisa dilakukan lebih cepat dan risiko penularan berkurang,” pungkas Didi. (*)



