
batampos – Lonjakan peminat ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada Sistem Penerimaan Murid Baru (PPDB) 2025 di Batam membuat pemerintah provinsi harus bergerak cepat. Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kini tengah menyiapkan langkah strategis dengan mengonversi salah satu SMA negeri di wilayah Batuaji menjadi SMK negeri.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Andi Agung, menyebutkan bahwa kebijakan ini diambil setelah melihat fakta bahwa sekolah-sekolah SMK di Batam, khususnya yang populer, sudah kelebihan daya tampung, sementara di sisi lain masih banyak siswa yang berminat masuk ke SMK.
“Memang kondisi di Batam saat ini cukup unik. Minat masyarakat ke SMK sangat tinggi. Sementara untuk SMA, hanya beberapa sekolah tertentu saja yang penuh. Maka salah satu solusi jangka pendek adalah mengonversi satu SMA di Batuaji menjadi SMK,” ujar Andi saat ditemui, Selasa (1/7).
Baca Juga: Amsakar Pertimbangkan Pembebasan Retribusi Parkir Tepi Jalan dalam APBD-P
Ia menjelaskan, total sekolah negeri jenjang SMK negeri di Batam saat ini sebanyak 11 sekolah, sedangkan SMK hanya 9. Namun permintaan masuk SMK lebih besar, sementara kapasitas terbatas. Beberapa SMK seperti SMK 1, SMK 4, SMK 5, SMK 6, dan SMK 7 tercatat sudah penuh, bahkan sebagian melebihi kuota.
“Sementara SMK lainnya seperti SMK 2, SMK 3, SMK 8, SMK 9, SMK 10, dan SMK 11 justru masih kekurangan siswa. Tapi karena persepsi masyarakat yang sudah terbentuk, sekolah favorit tetap jadi rebutan. Jadi, solusi yang realistis adalah menambah SMK baru dengan cepat melalui konversi,” kata Andi.
Konversi sekolah ini direncanakan dimulai tahun ajaran ini. Proses persiapan sudah dilakukan, mulai dari pendataan hingga penyesuaian tenaga pengajar dan sarana prasarana.
“Kami siapkan guru-gurunya, siapkan kurikulumnya, dan untuk fasilitas workshop sementara bisa menumpang di SMK 1 atau SMK 5 yang sudah ada. Nanti secara bertahap fasilitas akan dilengkapi di sekolah yang dikonversi,” jelasnya.
Baca Juga: Tak Ada Siswa Tertinggal, Disdik Kepri Salurkan Murid Baru ke Sekolah yang Masih Kosong
Langkah ini, menurut Andi, sejalan dengan komitmen pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Kepri agar semua anak usia sekolah bisa terlayani secara adil dan merata.
“Prinsipnya tidak boleh ada anak yang tidak sekolah. Kalau ruang daya tampung (RDT) di sekolah tertentu sudah penuh dan Dapodik sudah dikunci, memang tidak bisa ditambah. Tapi selama masih ada satuan pendidikan yang bisa dikembangkan atau dioptimalkan, kita maksimalkan itu,” tegasnya.
Lebih lanjut, Andi juga mengungkapkan bahwa selain langkah konversi SMA menjadi SMK, tahun ini Pemprov Kepri juga mendapatkan bantuan pembangunan sekolah baru dari pemerintah pusat.
“Tahun ini kita juga rencanakan penambahan SMA Negeri 29 Batam di kawasan Tiban Indah. Ini bantuan dari pusat dan akan menjadi tambahan penting bagi distribusi daya tampung SMA di Batam,” pungkasnya.(*)
Reporter: Rengga Yuliandra



