Kamis, 29 Januari 2026

Minim U-Turn di Jalan Diponegoro, Warga Seitemiang Nekat Lawan Arus

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Pengendara motor melawan arus di jalan Raya Pangeran Diponegoro, tepatnya di kawasan Seitemiang demi mempersingkat jarak tempuh, meskipun hal tersebut sangat berisiko bagi keselamatan. Foto. Eusebius Sara/ Batam Posurn

batampos – Jalan Raya Pangeran Diponegoro, tepatnya di kawasan Seitemiang, Batam, menjadi sorotan lantaran minimnya fasilitas putar balik atau U-Turn. Akibatnya, banyak pengendara motor terpaksa melawan arus demi mempersingkat jarak tempuh, meskipun hal tersebut sangat berisiko bagi keselamatan.

Salah satu titik krusial berada di pertigaan Jalan Ahmad Dahlan, Seitemiang. Pengendara yang hendak menuju arah Simpang Basecamp harus memutar jauh hingga ke kawasan hutan Mata Kucing karena hanya di sanalah U-Turn terdekat tersedia. Tak heran jika banyak pemotor memilih jalur berlawanan arah menuju Simpang Tobing sebagai solusi cepat meski membahayakan.

“Tiap pagi memang saya harus lawan arus karena buru-buru antar anak ke sekolah. Kalau ke Mata Kucing dulu, itu makan waktu,” keluh Anggriani, warga Seitemiang, yang mengaku tak punya pilihan lain demi efisiensi waktu.

Hal serupa dialami Iwan, warga Perumahan Permata Hijau. Ia juga rutin melawan arus setiap pagi untuk mengantar anak ke kawasan Sekupang. Menurutnya, U-Turn di Bundaran Basecamp terlalu jauh dan tidak efisien hanya untuk berpindah ke jalur seberangnya.

“Semenjak rampung proyek jalan dua jalur itu, kondisi jadi begini. Pemotor banyak yang nekat lawan arus karena tidak ada pilihan lain selain putar jauh,” ujarnya.

Iwan menyebut, sepanjang jalan Diponegoro dari Simpang Basecamp hingga Simpang Sei Harapan, hanya tersedia tiga U-Turn, yaitu di Simpang Tobing, hutan Mata Kucing, dan dekat Perumahan Delta, Sungai Harapan Sekupang.

Permintaan masyarakat agar pemerintah menambah U-Turn di sepanjang jalur tersebut, terutama di sekitar TPU Seitemiang atau simpang masuk Jalan Ahmad Dahlan, sudah berulang kali disampaikan. Namun hingga kini, Dinas Perhubungan Kota Batam belum mengabulkan permintaan itu.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Batam, Salim, belum lama ini menjelaskan bahwa permintaan tersebut sudah dibahas bersama Dinas Bina Marga dan Satlantas Polresta Barelang. Namun penambahan U-Turn belum dapat direalisasikan karena pertimbangan keselamatan pengendara yang lebih utama.

“Elevasi jalan Diponegoro tidak rata, ada yang lebih tinggi dan rendah. Banyak pula tikungan dan tanjakan. Kalau kita buat U-Turn di lokasi-lokasi seperti persimpangan Jalan Ahmad Dahlan atau TPU Seitemiang, risikonya tinggi karena lokasi itu berada di turunan dan median jalan yang tidak rata,” kata Salim.

Menurut Salim, menempatkan U-Turn di sembarang titik, apalagi di kawasan yang memiliki kontur jalan tidak ideal, sangat berbahaya. Ia mencontohkan potensi kecelakaan yang bisa terjadi jika kendaraan berkecepatan tinggi dari Simpang Tobing tiba-tiba bertemu dengan pengendara yang hendak menyebrang ke SPBU Seitemiang.

“Makanya kita tempatkan U-Turn agak jauh ke arah Mata Kucing agar ada ruang bagi kendaraan mengatur kecepatan dan tidak terjadi tabrakan. Kami utamakan keselamatan,” tegasnya. Namun demikian, Dishub menyatakan tetap akan mengevaluasi kondisi lapangan secara berkala jika ada potensi lokasi yang bisa dibenahi untuk penambahan U-Turn ke depannya.

Warga Seitemiang pun berharap pemerintah dapat menemukan solusi jangka panjang agar pengendara tidak terus-menerus mempertaruhkan keselamatan di jalan yang seharusnya mendukung kelancaran mobilitas harian mereka. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update