
batampos – Kontraktor pembangunan Masjid Tanjak, sejak Kamis (8/9) sudah mulai melakukan perbaikan plafon yang rubuh. Beberapa pakar dan BP Batam menyebut, jatuhnya plafon Masjid Tanjak akibat air.
Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kepri, Mulia Pamadi menilai harusnya air tidak boleh masuk atau mengenai plafon. “Gipsumnya menyerap air, akhirnya menjadi berat,” kata Mulia, Jumat (9/9).
Ia menjelaskan dari proses jatuhnya gipsum, serta arah jatuhnya berurutan dari kanan ke kiri. Lalu, rangka yang masih bertahan di langit-langit Masjid Tanjak, menandakan bahwa plafon sudah terlalu berat. Sehingga, skrup yang menahan plafon sudah tidak kuat lagi. Hingga, akhirnya jatuh secara simultan.
Saat ditanya, apakah kerangkanya terlalu kecil, menahan beratnya plafon. Mulia menilai kerangka dapat menahan plafon jika keadaan kering. Sedangkan saat basah, plafon menjadi berat dan mengurangi kekuatan skrup yang menempelkan plafon ke rangka.
Saat ditanya, mengenai perencanaan. Sebab, jika melihat posisi masjid dan potensi masuknya air. Tentunya harus dipikirkan dan diprediksi. Saat hal ini ditanyakan ke Mulia, ia mengaku tidak bisa menjawabnya.
“Logikanya begitu, tapi yang harus menjawabnya adalah dari arsitektur. Meskipun, ilmu saya juga bersinggungan mengenai itu (perencanaan bagaimana plafon, agar tidak terkena air),” ungkap Mulia.
Dari informasi didapat Mulia, bagian atas masjid ada lubang yang memungkinkan air dan angin masuk. Mulia menduga air masuk dari arah sana.
“Memberikan kesempatan air masuk (ke arah plafon), itu tidak bagus,” tuturnya.
Ia mengatakan seharusnya air dan hujan bisa dihindarkan. Sehingga, tidak menganggu kekuatan dari plafon dan membuatnya jadi roboh.
Ucapan dari Mulia, hampir sama dengan pengamat arsitektur yang juga mantan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kepri, Supriyanto. Ia mengatakan gipsum bukan bahan yang tahan terhadap air. Harusnya, air tidak boleh masuk.
Ia menyarankan jika memang ada masuk air atau angin. Maka, solusinya lubang-lubang penyebab masuknya air haruslah ditutup.
“Tapi kalau angin tidak masuk ruangan plafon, mungkin rangka itu kuat. Itu dugaan sementara dari yang saya lihat yah,” ucapnya.
Pemeliharaan Masjid Tanjak ini sudah dimulai sejak Kamis (8/9) malam. Proses awal pemeliharaan dimulai dengan pemasangan perancah (scaffolding) di dalam Masjid Tanjak Batam.
Kepala Biro Humas, Promosi dan Protokol BP Batam, Ariastuty Sirait mengatakan bahwa selain pemeliharaan, pemeriksaan atas kejadian ini telah dilakukan oleh Satuan Pemeriksa Intern (SPI) BP Batam.
Ariastuty mengatakan investigasi juga sedang dilakukan. Investigasi ini bentuk dari pemeliharaan dan antisipasi dari kejadian serupa.
“Pemeliharaan ini dilakukan tanpa penambahan biaya. Bila ada biaya yang timbul atas perbaikan tersebut untuk kesempurnaan Masjid Tanjak Batam ditanggung oleh kontraktor, karena masih masa pemeliharaan,” ujar Ariastuty.
Pemeliharaan ini, kata Ariastuty, diperkirakan berlangsung selama dua bulan. Selama masa pemeliharaan, Ariastuty mengimbau kepada masyarakat untuk sementara waktu, kegiatan peribadahan di Masjid Tanjak Batam belum bisa dilakukan. (*)
Reporter : FISKA JUANDA



