Sabtu, 24 Januari 2026

Multiplier Effect Hulu Migas di Kepri Dongkrak Ekonomi, Buka Lapangan Kerja, dan Kuatkan Industri Penunjang

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kunjungan kerja tim SKK Migas dan KKKS ke pabrikan lokal Appipa Indonesia yang memproduksi pipa dalam rangkaian Pra Kegiatan Forum Kapasitas Nasional wilayah Sumbagut, Kamis (9/6). Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) di Kepulauan Riau (Kepri) bukan hanya bicara soal angka produksi dan kontribusinya terhadap ketahanan energi nasional. Lebih dari itu, sektor strategis ini menghadirkan multiplier effect yang nyata bagi perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut, C.W. Wicaksono, menyampaikan bahwa geliat industri migas di Kepri mampu menggerakkan roda pembangunan di berbagai lini, dari pulau-pulau terdepan seperti Natuna dan Anambas, hingga pusat industri di Batam.

“Industri migas membawa manfaat berlapis. Mulai dari serapan tenaga kerja, peningkatan daya beli, perputaran usaha kecil, program sosial, hingga memperkuat daya saing industri nasional. Inilah multiplier effect yang nyata,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian Kepri menunjukkan tren positif. Tahun 2023, pertumbuhan ekonomi provinsi ini tercatat 5,20 persen. Sementara pada triwulan pertama 2025, angka pertumbuhan mencapai 5,16 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Salah satu pendorong utamanya adalah bangkitnya kembali sektor hulu migas setelah sempat terkontraksi.

Momentum kebangkitan itu ditandai dengan beroperasinya Lapangan Forel dan Terubuk pada Mei 2025. Proyek ini menambah kapasitas produksi sekitar 30.000 barrel oil equivalent per day (BOEPD) dan menyerap lebih dari 2.300 tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, 1.386 pekerja terserap di galangan kapal Batam yang menangani pembangunan fasilitas produksi lepas pantai.

“Fakta ini menunjukkan bahwa manfaat migas tidak hanya berhenti di laut, tetapi menjalar ke daratan dalam bentuk lapangan kerja dan perputaran ekonomi,” kata Wicaksono.

Di Anambas, keterlibatan masyarakat lokal kian besar. Banyak putra daerah kini bekerja di perusahaan migas, terutama di posisi operator dan foreman. Menurut Wicaksono, pelibatan ini bukan hanya menambah penghasilan rumah tangga, tetapi juga meningkatkan daya beli dan mendorong usaha kecil di sekitar wilayah operasi.

Warung makan, penginapan, jasa transportasi, hingga usaha kerajinan rakyat ikut merasakan dampaknya. “Begitu ada proyek migas, denyut ekonomi di masyarakat langsung terasa. Sektor-sektor lain ikut bergerak,” tambahnya.

Multiplier effect juga hadir melalui berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan. SKK Migas bersama KKKS dan pemerintah daerah rutin menggulirkan program pemberdayaan masyarakat, pendidikan, hingga lingkungan.

Di Natuna dan Anambas, program yang berjalan antara lain beasiswa untuk pelajar berprestasi, pelatihan keterampilan bagi nelayan, pemberdayaan perempuan lewat UMKM, hingga dukungan sarana pendidikan dan kesehatan. Selain itu, ada pelatihan tenaga kerja lokal seperti keselamatan kerja migas, pengelasan, hingga operator alat berat.

Khusus di Anambas, forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP) telah dibentuk. Forum ini menjadi wadah koordinasi agar program CSR tidak tumpang tindih dan tepat sasaran. Beberapa hasil nyata di antaranya pembangunan fasilitas sekolah, penyediaan peralatan kesehatan, bantuan kapal nelayan dan alat tangkap ramah lingkungan, serta pelatihan kewirausahaan untuk generasi muda.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad bahkan mengusulkan agar pendidikan migas dimasukkan ke dalam agenda CSR, sehingga anak-anak lokal bisa memiliki kesempatan lebih besar terjun ke industri strategis ini.

Dari sisi fiskal, kontribusi migas bagi daerah juga signifikan. Kabupaten Natuna, misalnya, rutin menerima Dana Bagi Hasil (DBH) migas dalam jumlah besar. Tahun 2025, alokasinya mencapai lebih dari Rp185 miliar, dengan Rp84 miliar di antaranya berasal langsung dari sektor migas.

Tonggak penting juga hadir ketika BUMD Kepri resmi mendapatkan Participating Interest (PI) 10 persen di Blok Northwest Natuna. Skema ini memastikan daerah tidak hanya mengandalkan transfer dari pusat, tetapi juga ikut terlibat langsung dalam keuntungan eksploitasi sumber daya alam.

Multiplier effect migas semakin terasa di Batam. Sebagai pusat industri Kepri, kota ini menjadi basis penting bagi berbagai industri penunjang, mulai dari galangan kapal hingga pabrik komponen.

Salah satunya adalah berdirinya pabrik pipa seamless pertama di Indonesia di Batam. Saat ini, pabrik tersebut mampu memproduksi 30.000 ton pipa per tahun, dan ditargetkan naik menjadi 70.000 ton pada akhir 2025. Produk pipa ini langsung digunakan dalam pengeboran sumur migas di berbagai blok nasional.

Batam juga menjadi lokasi pengerjaan proyek besar seperti konversi kapal tanker menjadi FPSO Marlin Natuna, yang sepenuhnya dikerjakan oleh tenaga kerja Indonesia. Hal ini menjadi bukti bahwa multiplier effect migas bukan hanya soal energi, tetapi juga memperkuat daya saing industri nasional dan menyerap ribuan tenaga kerja lokal.

Wicaksono optimistis multiplier effect industri hulu migas di Kepri akan terus membesar seiring beroperasinya proyek-proyek baru. “Natuna dan Anambas tidak lagi dipandang sebagai halaman belakang negara. Keduanya bisa menjadi garda depan pertumbuhan ekonomi berbasis energi,” katanya.

Menurutnya, industri migas di Kepri sudah membuktikan bahwa keberadaannya bukan hanya soal barel minyak atau kubik gas, melainkan soal kesejahteraan masyarakat, pembangunan daerah, dan kemandirian bangsa. “Jika dikelola bijak dan berkelanjutan, multiplier effect hulu migas akan terus menjadi cerita positif dari Bumi Segantang Lada untuk Indonesia,” pungkasnya. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update