Minggu, 25 Januari 2026

Nyawa Pekerja Melayang, Penerapan K3 di Galangan Kapal Batam Dipertanyakan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Korban kecelakaan kerja saat di kamar jenazah RSUD Embung Fatimah.

batampos – Kecelakaan kerja kembali mencoreng industri galangan kapal di Batam. Kasus terbaru menimpa M Raudhul Ma’ari, pekerja subcon PT Sinar Lautan Agung, yang tewas diduga akibat tersengat listrik saat mengerjakan perbaikan kapal di galangan PT Marine Shipyard, Tanjunguncang, Kamis (7/8) sore. Polisi memastikan telah memeriksa tiga orang saksi, dan penanganan kasus ini kini sepenuhnya berada di tangan Satreskrim Polresta Barelang.

Insiden ini terjadi ketika korban sedang menghaluskan bagian dalam tangki kapal jenis semen bar menggunakan mesin gerinda. Menurut saksi, korban ditemukan sudah terbaring di dalam tangki kapal dengan mesin gerinda di atas tubuhnya. Saat dibawa ke RSUD Embung Fatimah, petugas medis menyatakan korban sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Kasus ini menambah panjang daftar kecelakaan kerja di sektor galangan kapal yang kerap memakan korban jiwa. Banyak pihak menilai penyebabnya adalah minimnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara konsisten di lapangan. Para pekerja pun mulai bersuara, mendesak adanya pengawasan ketat dan sanksi tegas bagi perusahaan yang abai.

Baca Juga: Kecelakaan Kerja Lagi, Pekerja Galangan Kapal Tewas Tersengat Listrik

Rudolf, pekerja galangan kapal di Tanjunguncang, mengatakan dirinya merasa khawatir peristiwa serupa bisa saja terjadi kepada dirinya atau rekan-rekannya. “Perlu pengawasan ketat dari instansi terkait. Jangan hanya ada peraturan di atas kertas, tapi penerapannya nihil. Harus ada sanksi tegas bagi perusahaan yang mengabaikan K3,” ujarnya.

Senada, Hendra, pekerja lainnya, mengkritik bahwa di banyak perusahaan galangan kapal, penerapan K3 hanya sebatas formalitas. “K3 itu biasanya cuma gembar-gembor di gerbang perusahaan. Pemeriksaan safety memang ketat di awal masuk, tapi saat sudah bekerja pengawasannya minim. Akibatnya ya seperti ini, kecelakaan terus terjadi,” katanya.

Sementara itu, Indra, warga yang pernah bekerja di tangki kapal, mengaku memilih keluar setelah merasakan langsung minimnya penerapan K3 di lapangan. “Kondisinya sangat berisiko. Safety tidak diperhatikan, jadi saya memutuskan berhenti. Bisa-bisa nyawa taruhannya kalau tetap kerja di situ,” ungkapnya.

Kanit Reskrim Polsek Batuaji, Iptu Andi Pakpahan, membenarkan pihaknya telah memeriksa tiga saksi terkait insiden tersebut. “Kasus ini sedang ditangani Satreskrim Polresta Barelang. Kami hanya melakukan penanganan awal di lokasi sebelum dilimpahkan ke Polres,” terangnya.

Hingga berita ini diturunkan, penyidik masih mendalami penyebab pasti tewasnya korban, termasuk memeriksa kelayakan peralatan kerja dan prosedur keselamatan yang berlaku di lokasi proyek. Para pekerja berharap insiden ini menjadi momentum untuk membenahi sistem keselamatan kerja di galangan kapal Batam, agar nyawa pekerja tidak lagi menjadi taruhan setiap kali mereka masuk ke lokasi kerja. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update