
Tetap Dicari di Tengah Banyaknya Kompetitor
batampos – Tanah Pasundan punya makanan khas dan lezat yaitu bakso tahu goreng atau lebih familiar dengan sebutan batagor. Kuliner ini diberikan mana batagor, karena bakso tahu yang biasanya dikukus itu malah digoreng. Di samping itu, juga ada siomay.
BACA JUGA: WANDI, Pemilik Barber Shop Three Brother
Pecinta kuliner Batam yang ingin merasakan kelezatan batagor dan siomay dengan harga yang murah datang saja ke depan sekitar Bengkong Trade Centre.
BACA JUGA: Sayidina Ali, Pemilik Ketupat Lontong Salero Sutan
”Kita buka dari pukul 14.00 WIB sampai 02.00 WIB setiap hari,” sebut Pemilik Batagor Siomay Mpok Atik, Nyumiati, Senin (3/7/2023).
BACA JUGA: Indra Hidayat, Pemilik Warung Prasmanan Mama Kembar
Bicara harga kata ibu satu anak ini, cukup murah. Hanya dengan Rp 15 ribu, pelanggan sudah bisa mendapatkan satu porsi batagor dan siomay. Bila ingin mendapatkan rasa lebih lezat. Bisa memesan satu butir telur utuh dengan menambah biaya Rp 2 ribu.
BACA JUGA: Dewi Asriani, Pemilik Zahran Cake
Ditambahkannya, secara umum, batagor dibuat dari tahu yang dilembutkan dan diisi dengan adonan berbahan ikan dan tepung tapioka lalu dibentuk menyerupai bola yang digoreng dalam minyak panas selama beberapa menit hingga masak.
Variasi lainnya yaitu siomay. Batagor dan siomay bahan pembuatannya sama. Bedanya adalah, siomay ini makanan yang dikukus. Makanan ini dikombinasikan dengan bumbu kacang, kecap manis, sambal, dan air perasan jeruk nipis sebagai pelengkap. Meskipun namanya hampir mirip dengan nama yang dibuat di China, siomay nasional ini cita rasanya tidak sama, dan tentu dengan lauk pauk yang sangat berbeda juga dan bernuansa Islam.
Jajanan jalanan, makanan jalanan atau street food ini papar Nyumiati mulai dikelolanya sejak tahun 2010 lalu hingga sekarang 2023. Artinya sudah 13 tahun wanita berjilbab ini menjual dua jenis makanan ini.
Setiap hari. Usai membeli bahan, mengolah dan membuat batagor dan siomay, Nyumiati membawa lapaknya ini dengan sepeda motor dari Bengkong Sadai . Jarak rumah ke tempat usaha sekitar 3 kilometer. Tidak berat membawa lapak berjalan ini dengan sepeda motor?
”Tidak juga. Karena sudah setiap hari dijalani. Ya biasa saja. Kalau tidak buka kan tidak enak dengan pelanggan. Mereka biasanya bertanya. Kok tidak bukak atau dengan berbagai pertanyaan lainnya,” jelas Nyumiati.
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ini kata Nyumiati, tetap dicari pelanggan. Meski banyak kompetitor UMKM lain yang menjual aneka makanan di lokasi yang sama. Namun batagor dan siomay yang dibuatnya tetap didatangi pelanggan, dinikmati untuk dibawa pulang. (***)
Reporter: Suprizal Tanjung



