Jumat, 23 Januari 2026

Optimisme Baru Appeknas Kepri, Gilbert Hoo dan Janji di Tengah Gemuruh Pembangunan Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ketua Umum DPN Appeknas Fandy Iood melantik Ketua Appeknas Kepri Gilbert Hoo dan pengurus di Ballroom Yos Sudarso, Selasa (28/10). Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos – Lampu kristal berpendar lembut. Aula besar itu menyimpan gema yang jauh lebih dalam daripada suara tepuk tangan.

Selasa (28/10), di Ballroom Yos Sudarso, Batam, sekelompok orang berdiri tegak di panggung: wajah-wajah yang menyimpan harapan dan mungkin juga beban. Mereka bukan sekadar pengusaha konstruksi; mereka adalah para penyusun batu dan logam dari cita-cita yang lebih besar, sebuah negeri kecil bernama Kepri yang sedang berlari menuju masa depan.

Pelantikan Ketua dan Pengurus Asosiasi Pengusaha Konstruksi Nasional (Appeknas) Provinsi Kepri itu berlangsung khidmat, tapi juga hangat. Tak ada gegap gempita berlebihan. Tidak ada pesta besar. Hanya deretan kursi dan semangat yang tak kalah megah dari bangunan mana pun yang pernah mereka dirikan.

Baca Juga: Gilbert Hoo Nahkodai APPEKNAS Kepri, Siap Gaet Investasi dan Dorong Proyek Strategis di Kepri

Di tengah ruangan, seorang pria berkacamata bersetelan rapi dengan balutan jas hitam tampak tenang. Dr (HC) Gilbert Hoo, nama yang hari itu diucapkan dengan rasa hormat, menerima kepercayaan sebagai Ketua DPP Appeknas Kepri. Suaranya datar tapi penuh keyakinan, seperti orang yang tahu betul jalan panjang yang akan ditempuh.

“Pelantikan ini bukan seremoni, tapi penegasan komitmen kita,” katanya.

Kalimat itu seperti sebuah janji. Tidak muluk, tapi tajam. Ia berbicara tentang fasilitasi, konsultasi, sinergi: tiga kata yang sering muncul dalam kamus organisasi. Namun kali ini terdengar punya napas lain, napas untuk bertahan di dunia yang berubah terlalu cepat.

Di kota ini, konstruksi tidak pernah tidur. Gedung-gedung baru bangkit di antara bekas rawa, perumahan tumbuh di pinggir laut, dan proyek-proyek besar terus menggeliat di bawah bayang BP Batam. Di tengah pusaran itulah Appeknas Kepri hendak menegaskan peran.

Gilbert tampak menyadari, jalan yang dihadapinya tak akan mudah. “Tantangan tak ringan,” ujarnya. Ia berbicara tentang profesionalisme, tentang tanggung jawab sosial, tentang pentingnya menjadikan asosiasi bukan sekadar tempat berhimpun, tapi ruang belajar bersama.

Ia ingin membentuk SDM unggul, bukan hanya terampil menggambar rancangan bangunan, tapi juga tegak dalam integritas. Dia ingin sinergi dengan pemerintah, tanpa kehilangan jarak kritis. Dia mau transparansi dan akuntabilitas menjadi fondasi baru yang tak kalah kokoh dari beton yang biasa mereka tuang.

Bagi Gilbert, organisasi seperti Appeknas adalah cermin. Jika permukaannya keruh, yang tampak di baliknya pun kabur. Tapi bila dibersihkan dengan niat dan kerja keras, maka yang memantul adalah masa depan.

“Kami akan memperjuangkan kepentingan anggota, dan melaksanakan tugas ini dengan tanggung jawab penuh,” ujarnya.

Di deretan kursi tamu, pejabat publik hadir memberi selamat. Tapi yang paling penting bukanlah tangan-tangan yang menjabat, melainkan arah pandang yang sama, bahwa pembangunan bukan hanya soal angka proyek, tetapi tentang menanam nilai di setiap fondasi yang didirikan.

“Mari kita mulai babak baru dengan optimisme,” katanya.

Sebuah ajakan yang terdengar sederhana, namun di dalamnya ada gema dari segala perjuangan manusia yang pernah percaya pada kemungkinan.

Optimisme itu, seperti bata pertama, diletakkan perlahan. Tidak selalu rapi, tak selalu kokoh, tapi dengan keyakinan bahwa suatu hari tembok itu akan berdiri sempurna. (*)

Reporter: Arjuna

Update