Minggu, 18 Januari 2026

Orang Tua Resah, Anak Kecanduan Roblox, Emosi Labil dan Malas Belajar

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Game online Roblox.

batampos – Kekhawatiran terhadap dampak negatif permainan daring semakin menjadi perhatian masyarakat, terutama di kalangan orang tua. Di kawasan Batuaji dan Sagulung, banyak orang tua mengeluhkan perubahan sikap anak-anak mereka yang dinilai makin kecanduan permainan game online, terutama Roblox.

Permainan ini kini tidak hanya dimainkan oleh anak-anak usia sekolah, bahkan anak usia taman kanak-kanak (TK) dan pendidikan anak usia dini (PAUD) pun sudah terpapar.

Sumardi, warga Batuaji, mengatakan bahwa dampak game ini mulai terasa dalam kehidupan keluarganya. “Anak saya jadi lebih cepat emosi, kadang teriak sendiri saat main game. Kalau kita lengah sedikit, langsung ambil ponsel dan main. Televisi pun tak dilirik, apalagi main di luar rumah,” keluhnya.

Ia menambahkan, banyak anak-anak kini lebih suka menghabiskan waktu di layar gawai dibandingkan bersosialisasi atau bermain secara aktif.

Keresahan serupa juga disampaikan Sumarti, ibu rumah tangga di Tanjunguncang. Ia mengamati bahwa kelompok anak-anak di kompleknya kini lebih senang duduk berkerumun sambil bermain ponsel, ketimbang bermain bola atau sepeda seperti anak-anak zaman dulu. “Mereka jadi malas belajar, tugas sekolah pun sering ditunda. Ini sangat mengkhawatirkan,” ucapnya dengan nada prihatin.

Orang tua berharap pemerintah dan penyedia platform digital lebih tegas dalam mengawasi konten game yang tersedia di aplikasi. Banyak yang mendukung pelarangan permainan seperti Roblox, terutama bila terbukti memberi dampak buruk bagi anak-anak. “Kami berharap game seperti itu tidak bisa diakses anak-anak. Tolong diawasi dan dibatasi,” tambah Sumardi.

Keresahan para orangtua tersebut sejalan dengan pernyataan terbaru dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, yang secara tegas melarang permainan Roblox untuk dimainkan anak-anak. Ia menilai game tersebut mengandung unsur yang membahayakan secara psikologis, serta tidak sesuai dengan dunia anak. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update