Sabtu, 24 Januari 2026

Panggung Musik Melayu di Sagulung Diserbu Warga, Disbudpar Dorong Pelestarian Budaya Lokal

spot_img

Berita Terkait

spot_img

batampos– Suasana Sabtu (1/11) malam di pelataran Cipta Grand City, Kelurahan Sei Binti, Kecamatan Sagulung, berubah semarak. Ratusan warga tumpah ruah menghadiri acara Di Sagulung, Kita Bersenandung, sebuah pesta rakyat yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam bekerja sama dengan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kecamatan Sagulung.

Alunan musik Melayu berpadu dengan sorak-sorai penonton yang larut dalam kehangatan malam. Lampu panggung berkilauan, tawa anak-anak pecah di sudut area foto booth yang disediakan panitia. Semua bergembira, menikmati momen kebersamaan yang kental dengan nuansa budaya.

Ketua LAM Kecamatan Sagulung, Dato’ Juanda, mengaku bangga dan berterima kasih atas dukungan Disbudpar dalam upaya menghidupkan kembali napas kebudayaan Melayu di tengah masyarakat modern.

“Kami dari Lembaga Adat Melayu Kota Batam mengucapkan terima kasih kepada Disbudpar yang telah bekerja sama membangkitkan kembali kebudayaan Melayu di Kota Batam,” ujarnya.

BACA JUGA: HUT Batam ke-196 Dikemas Berbeda: Atraksi Udara, UMKM, hingga Festival Melayu

Menurutnya, kegiatan seperti ini penting agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai akar budayanya.“Harapan kami, kebudayaan di Kepulauan Riau jangan sampai hilang. Lewat kegiatan seperti ini, kita bisa terus melestarikan lagu, tari, dan tradisi Melayu,” tambahnya.

Dato’ Juanda juga menyebut geliat kesenian Melayu di Sagulung masih hidup. Grup musik Melayu kerap tampil di berbagai acara masyarakat, dari hajatan hingga pertunjukan budaya.

“Alhamdulillah, di Sagulung lagu-lagu Melayu sangat digalakkan. Kami rutin tampil di acara pemerintah maupun masyarakat,” katanya.

Malam itu, band Pesona Indah menjadi sorotan. Hanya dengan dua hingga tiga hari latihan, grup lokal ini sukses memukau penonton lewat lagu-lagu Melayu berirama manis dan menggetarkan.

“Persiapannya singkat, tapi semangatnya luar biasa. “Kami berharap acara seperti ini tak hanya digelar sekali setahun, tapi bisa dua kali agar budaya Melayu semakin hidup di tengah masyarakat.”ujar Dato’ Juanda tersenyum.

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Batam, Samson Rambah Pasir, menyebut kegiatan ini dirancang sebagai panggung ekspresi bagi masyarakat Sagulung.“Acara ini wadah bagi masyarakat menggali dan menumbuhkan potensi seni budaya Melayu,” ujarnya.

Konsepnya sederhana namun penuh makna, hiburan rakyat yang menampilkan ragam pertunjukan warga, mulai dari musik pop era 60-an, lagu-lagu Melayu, tarian tradisional, hingga pembacaan puisi.

“Mereka berlatih sendiri, lalu tampil di panggung yang kami siapkan lengkap dengan sound system dan pencahayaan profesional,” katanya.

Samson menambahkan, kegiatan ini juga menjadi napas baru bagi para pelaku seni yang selama ini vakum karena minimnya ruang tampil. “Banyak grup yang dulu aktif, kini bisa eksis lagi. Masyarakat terhibur, dan anak-anak muda pun tahu bahwa inilah seni Melayu mereka,” jelasnya.

Ia menegaskan, Disbudpar berkomitmen menjaga eksistensi kesenian tradisional di tengah derasnya budaya modern. “Pemerintah tak bisa terus melatih, tapi kami bisa memberi panggung agar mereka hidup dan berkembang,” tutupnya. (*)

Reporter: Rengga

Update