Minggu, 1 Februari 2026

Pelabuhan Batuampar Menuju Standar Internasional, Logistik Batam Makin Mandiri

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Alfi Batam Gelar Diskusi Bahas Masa Depan Pelabuhan Batuampar. Foto. Rengga Yuliandra/ Batam Pos

batampos – Pengembangan Pelabuhan Batuampar terus menunjukkan progres positif. Berbagai upaya modernisasi infrastruktur dan optimalisasi layanan mulai berdampak pada peningkatan aktivitas bongkar muat serta berkurangnya ketergantungan Batam terhadap pelabuhan luar negeri.

Direktur Badan Usaha Pelabuhan BP Batam, Dendi Gusninandar, mengungkapkan bahwa percepatan proyek pembangunan bersama mitra strategis telah membawa perubahan signifikan dalam waktu singkat.

“Perkembangan ini membuktikan bahwa Pelabuhan Batuampar semakin siap menjadi hub logistik internasional. Target yang sebelumnya diproyeksikan tercapai pada 2025, kini lebih cepat terealisasi,” ujar Dendi dalam diskusi bersama pelaku usaha di Batam, Rabu (19/2).

Salah satu capaian utama adalah pengurangan arus barang ke Singapura hingga 10 persen, menandakan peningkatan kemandirian Batam dalam sektor logistik. Selain itu, efisiensi bongkar muat meningkat drastis berkat modernisasi peralatan, seperti pengoperasian Ship to Shore Crane (STS) dan Mobile Harbor Crane (MHC).

Produktivitas yang semula 8-10 boks per jam kini meningkat menjadi 40-50 boks per jam. BP Batam menargetkan peningkatan kapasitas bongkar muat hingga 900 ribu TEUs pada 2025, dengan proyeksi 2 juta TEUs pada 2028. Langkah ini diharapkan semakin memperkuat posisi Batam sebagai pusat perdagangan dan industri di kawasan Asia Tenggara.

Berdasarkan data BP Batam, kinerja bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Batuampar pada semester I 2024 mencapai 313 ribu TEUs, meningkat 7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini tidak terlepas dari berbagai program revitalisasi infrastruktur yang telah dilakukan sejak 2020, termasuk pendalaman alur, sistem auto gate, serta perbaikan fasilitas dasar lainnya.

Tak hanya itu, rute direct call internasional juga mulai berkembang. Setelah sukses membuka jalur Batam–Cina pada Maret 2024, rute Batam–Yangon, Myanmar juga mulai beroperasi sejak Agustus 2024. Ini menjadi peluang besar untuk mendorong ekspor langsung dari Batam tanpa harus melalui pelabuhan negara tetangga.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam, Yasser Hadeka Daniel, menekankan bahwa meskipun perkembangan Batuampar semakin pesat, masih ada tantangan yang perlu diselesaikan. Salah satunya terkait keterlambatan yang kerap terjadi di pelabuhan.

“Kami tidak bisa hanya menyalahkan BP Batam atau operator pelabuhan. Ini adalah tugas bersama agar pengembangan Batuampar semakin maksimal,” ujarnya.

ALFI menilai ada sejumlah faktor eksternal yang juga mempengaruhi efisiensi, termasuk gangguan pada sistem Coretax serta kebijakan pusat yang belum sepenuhnya disesuaikan dengan status Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ).

Ke depan, kolaborasi antara BP Batam, operator pelabuhan, dan pemerintah pusat harus lebih solid. Apalagi, pada April 2025 nanti, tambahan 2-3 unit RTG crane akan mulai beroperasi guna mempercepat proses bongkar muat.

“Membangun pelabuhan bertaraf internasional bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga regulasi yang mendukung. Kami berharap ada kebijakan khusus yang lebih fleksibel untuk Batam, mengingat perannya sebagai pusat industri dan logistik nasional,” pungkas Yasser.

Dengan berbagai langkah strategis ini, Pelabuhan Batuampar semakin dekat menuju standar internasional dan siap menjadi pusat logistik unggulan di Indonesia. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update