Rabu, 14 Januari 2026

Pelaku Usaha di Batam Dukung PP 25 dan PP 28, Tapi Minta Pelayanan Dibenahi

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Pengusaha Batam, Jadi Rajagukguk. (Dokumentasi pribadi untuk Batam Pos)

batampos – Dunia usaha di Batam menilai implementasi PP No 25 dan PP No 28 Tahun 2025 masih membutuhkan waktu untuk benar-benar berjalan optimal. Pengusaha menilai BP Batam masih terus melakukan pembenahan internal agar mampu menjalankan amanah baru terkait pelayanan perizinan dan pengelolaan lahan.

Salah seorang pengusaha ternama di Batam, Jadi Rajagukguk, mengatakan bahwa pelaku usaha saat ini masih menunggu kesiapan BP Batam dalam menjalankan fungsi tambahan sebagaimana diatur dalam PP 25. Kebijakan tersebut akan berdampak langsung pada kelancaran investasi di Batam, sehingga kesiapan sistem dan SDM menjadi kunci utama.

“Sejauh ini BP Batam masih terus melakukan pembenahan dan persiapan infrastruktur perizinan seperti aparatur pelaksana dan prosedur. Kami berharap semuanya bisa berjalan profesional,” katanya, Kamis (9/10).

Profesionalitas dalam pengelolaan perizinan dan pengalokasian lahan di Batam harus ditegakkan. Ia mengingatkan agar tidak ada pihak-pihak yang memanfaatkan kebijakan ini untuk kepentingan tertentu yang justru merugikan pelaku usaha.

“Jangan sampai ada oknum yang bermain. Dunia usaha sangat berharap pelayanan berjalan transparan dan adil,” katanya.

Meski begitu, Jadi menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan yang dijalankan BP Batam dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam. Sinergi kedua lembaga tersebut penting untuk mendorong peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi.

“Kita dukung penuh kebijakan yang dikeluarkan BP Batam dan Pemko Batam dalam rangka peningkatan pelayanan perizinan dan investasi,” ujar dia.

Saat ditanya soal kesiapan BP Batam secara sistem dan SDM, Jadi menilai proses pembenahan masih berlangsung. Ia mengatakan, turunan dari PP 25 berupa Peraturan Kepala (Perka) BP Batam harus disiapkan terlebih dahulu agar tidak terjadi kekacauan dalam pelaksanaan teknis di lapangan.

Dalam masa transisi ini, wajar jika masih ada hambatan yang dihadapi dunia usaha, terutama dalam hal birokrasi dan regulasi. Akan tetapi, ia optimistis BP Batam telah mengantisipasi berbagai kendala tersebut.

“Yang penting kepentingan pelaku usaha harus diutamakan agar tidak terjadi stagnasi dalam pengembangan usaha,” ujarnya.

Jadi menilai sektor industri manufaktur masih menjadi tulang punggung ekonomi Batam karena berkontribusi hampir 50 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Selain itu, sektor konstruksi dan properti juga mulai menggeliat seiring meningkatnya permintaan perumahan dan apartemen.

Potensi besar juga ada di sektor pariwisata dan perdagangan, yang mana kedua lini itu akan terus tumbuh. Kata dia, arus wisatawan dari Singapura dan Malaysia yang terus meningkat membuka peluang bagi pengembangan destinasi wisata baru serta tumbuhnya sektor perdagangan barang dan jasa di Batam.

“Semua sektor itu saling mendukung dan menjadi fondasi bagi ekonomi Batam yang lebih kuat,” katanya. (*)

 

Reporter: Arjuna

Update