
batampos – Kenaikan harga BBM diprediksi akan berdampak panjang dan luas. Pengusaha menilai pemerintah harus mempersiapkan langkah antisipasi. Harga BBM tentunya tidak hanya mempengaruhi para pekerja, tapi juga para pengusaha.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafki Rasyid mengatakan dalam jangka pendek kenaikan BBM tidak berdampak akan pengurangan tenaga kerja. “Tapi, berbagai biaya akan naik seperti logistik pengiriman hasil produksi. Akibatnya mau tidak mau, harga ke konsumen juga akan dinaikan. Ada resiko konsumen mengurangi permintaan terhadap barang-barang hasil produksi tersebut karena harganya yang naik,” kata Rafki, Minggu (4/9).
Naiknya barang-barang hasil produksi, juga dapat membuat para konsumen menahan diri untuk berbelanja. Sehingga barang barang hasil produksi menjadi tidak laku.
“Jadi efek domino dari kenaikkan harga BBM ini cukup panjang dan luas. Pengusaha akan hati-hati mengambil keputusan agar bisnis tidak kolaps,” tuturnya.
Kanikan harga BBM, kata Rafki ,dapat memicu inflasi. Sebab, angka inflasi bisa menyentuh dua digit, jika tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah.
“Inflasi tinggi ini nanti di akhir tahun juga akan memicu kenaikan upah minimum di Batam. Karena salah satu komponen penentunya adalah inflasi,” ujar Rafki.
Jika UMK naik terlalu tinggi, Apindo khawatir gelombang PHK bisa terjadi lagi di Batam. Namun, ia berharap mudah mudahan saja tidak sampai terjadi begitu. “BP Batam kami harapkan terus menggenjot realisasi investasi di Batam, agar permintaan tenaga kerja di pasar kerja terus tinggi. Sehingga lonjakan pengangguran bisa dicegah,” ujarnya.
Akibat kenaikan BBM, Rafki mengatakan pemerintah tidak akan memberikan kompensasi jangka pendek. Sebab, kompensasi sudah diberikan pemerintah, berupa subsidi upah bagi karyawan yang digaji upah dibawah Rp3,5 juta.
Namun, demi meringankan beban karyawan. Rafki berharap pemerintah daerah dapat cepat tanggap, menjaga ketersedian kebutuhan pokok. Hal ini juga demi menjaga inflasi
“Karena kenaikkan biaya transportasi akibat kenaikkan harga BBM ini tentu akan menaikkan harga harga kebutuhan pokok. Jika kemudian pasokannya terhambat maka inflasi tentu akan lebih parah lagi,” ungkapnya.
Terkait kenaikan harga BBM ini, Rafki mengaku memahami kesulitan anggaran yang dialami oleh pemerintah. “Meskipun demikian, kami tidak tahu seberapa buruk inflasi yang akan terjadi nanti pasca naiknya harga BBM ini. Karena inflasi sudah cukup tinggi sebelum harga BBM dinaikkan,” ujar Rafki.
Naiknya harga BBM, tentunya berdampak terhadap harga komoditi lainnya. Demi mencegah orang-orang yang aji mumpung, atau menaikan harga komoditas pangan secara tidak wajar. Kepala Kanwil I Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Ridho Pamungkas menyatakan kesiapan mengawasi kenaikan harga bahan pokok.
“Kami mewanti-wanti kepada pelaku usaha untuk tidak menjadikan kenaikan BBM sebagai kedok menaikan harga pangan,” kata Ridho.
KKPU mengantisipasi kenaikan harga yang disebabkan prilaku kartel atau monopoli, dengan melakukan pengawasan tata niaga barang dan jasa.
“KPPU nantinya akan melakukan hitung-hitungan harga keekonomian dari produk barang dan jasa untuk menilai apakah peningkatan harga barang dan jasa yang dijual sebanding dengan kenaikan harga bahan bakar atau biaya transportasi. Sehingga akan ada indikasi awal yang bisa dijadikan patokan untuk menelusuri dugan-dugaan praktek kartel dalam menentukan harga barang dan jasa setelah kenaikan harga BBM itu sendiri,” tuturnya.
KPPU Kanwil I, kata Ridho juga akan ikut mengkaji penyederhanaan rantai pasok dan jalur distribusi bahan pokok. Sehingga dapat menahan laju inflasi. (*)
Reporter : FISKA JUANDA



