Kamis, 12 Maret 2026

Penambang Kapal dan Nelayan Pulau Ngenang Berharap Pembangunan Pelabuhan Resmi

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad (kemeja biru) berkunjung ke rumah salah seorang warga di Pulau Ngenang. Warga nelayan, penambang kapal Pulau Ngenang, Nongsa berharap pemerintah membangun pelabuhan resmi bagi mereka masyarakat di kawasan tersebut. Foto: Pemko Batam untuk batampos.co.id

batampos – Warga nelayan, penambang kapal Pulau Ngenang, Nongsa berharap pemerintah membangun pelabuhan resmi bagi mereka masyarakat di kawasan tersebut. Belasan tahun menambang, para nelayan mengaku bingung untuk menurunkan penumpang ke darat.

Tony, penambang kapal Pulau Todak, Nongsa, mengatakan, kondisi ini yang selalu dirasakan warga yang berada di pulau Ngenang, Tanjung Sauh, Todak dan Air Mas, setiap kali akan turun ke Batam.

“Iya pak, kami sangat berharap ada pelabuhan rakyat di Punggur yang legal untuk kami penambang dan nelayan,” ujarnya, Jumat (9/9/2022).

Tak hanya Tony, puluhan nelayan dan penambang kapal lainnya juga mengharapkan hal yang sama. Saat itu puluhan para nelayan ini berkumpul di pelabuhan Ngenang bersama penambang Tony.

Para nelayan ini baru saja menerima life jaket dan dokumen e-pas kecil kapal secara gratis dari KSOP khusus Batam.

Disela kenaikan BBM, menurut Tony seharusnya pemerintah juga memperhatikan kondisi mereka, masyarakat pulau.

Sebab, kehidupan masyarakat pulau yang berada di pinggiran Nongsa bertumpu pada pelabuhan di Punggur.

“Aktivitas sehari hari kami ke Batam, sementara kami tak ada tempat untuk menyandarkan kapal, tak mungkin lah di pelabuhan Roro atau Domestik Fery. Disana pun kami tak enak juga,” ungkap Tony.

Hal yang sama juga disampaikan penambang Pulau Ngenang, Rofinus. Bertahun tahun dirinya tinggal di Pulau Ngenang dan bekerja sebagai penambang kapal namun setiap kali turun ke Batam, ia mengaku bingung untuk menurunkan penumpang ke darat.

“Jumlah warga kami memang tak banyak macam di Batam, tapi pulau kami banyak di sekitaran Nongsa sini pak. Kami, kalau mau ke Batam itu selalu terkendala kalau mau turunkan penumpang. Kami hanya bisa turunkan penumpang di pelabuhan toko yang di Punggur,” ucap Rifinus Roni.

Terkadang ia merasa tidak enak kepada pemilik toko, dikarenakan menganggu aktifitas bongkar muat barang di toko tersebut.

“Memang dari pemilik toko ngak masalah, tapi kalau begini terus kita jadi beban, sementara ini mata pencarian kami warga pulau. Harapannya adalah pelabuhan tradisional seperti di Sekupang ataupun Tanjungriau, sehingga kita bekerja juga bisa lebih nyaman,” ungkapnya.

Lurah Ngenang, Hendri mengaku keluhan masyarakat pulau yang ada di kelurahan Ngenang itu sudah bolak balik disampaikan warga.

“Itulah kendala masyarakat kami selama ini pak. Tak ada pelabuhan untuk berlabuh tambat,” ujar Lurah.

Namun Lurah juga meminta agar masyarakat penambang antar pulau ini solid dan kompak.

“Duduk dan bahas bersama agar semuanya apa yang kita harapkan saat ini bis dipenuhi oleh pemerintah,” pungkasnya.(*)

Reporter: Rengga Yuliandra

SALAM RAMADAN