Minggu, 5 April 2026

Pengaruh Konten Youtube “Bunda Ragil” Terhadap Perilaku Seks Remaja

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Laras Dwi Oktari

Perkembangan teknologi yang sangat pesat terutama di tengah kondisi pandemik saat ini memberikan peluang besar terhadap industri komunikasi, terutama kondisi yang memaksakan masyarakat untuk berdiam diri di rumah sehingga membuat masyarakat memanfaatkan hiburan yang ada melalui media, baik itu media massa, maupun media baru (new media) seperti Youtube.

Youtube yang menghadirkan konten tak terbatas ini sangat menarik perhatian para penggunanya untuk bisa mengakses apapun sesuai yang mereka inginkan. Tak dapat dipungkiri, hal ini menjadikan youtube merajai media social di Indonesia (Novianty & Dicky, 2021). Dalam kaitannya dengan kajian komunikasi, Mosco (2009:130) melihat ada dua dimensi hubungan komodifikasi dengan komunikasi. Salah satunya yaitu proses komunikasi dan teknologi berkontribusi pada proses umum dari komodifikasi dalam ekonomi secara keseluruhan.

Komodifikasi menjadi mudah dilakukan dengan menggunakan komunikasi dan teknologi. Tanpa teknologi, proses komodifikasi tidak akan berjalan efektif dan efisien. Youtube dapat dikatakan sebagai suatu proses komodifikasi, karena di dalamnya juga terdapat tiga bentuk komoditas, yaitu komodifikasi konten, isi, dan pekerja.
Selain itu, komodifikasi sering dideskripskan sebagai cara kapitalisme melancarkan tujuannya dengan mengakumulasi kapital, atau, menyadari transformasi nilai guna menjadi nilai tukar (Gita, 2019:92). Tentu saja, youtube tak serta merta hadir begitu saja tanpa adanya keuntungan yang didapat baik itu dari youtube itu sendiri maupun “pekerja” yang biasa disebut youtuber.

Berdasarkan riset yang dilakukan Hootsuite dan We Are Social per Januari 2021, pengguna internet berusia 16-24 tahun paling banyak menghabiskan waktunya menonton video online di perangkat mereka (Novianty & Dicky, 2021). Usia ini merupakan usia remaja sehingga dapat disimpulkan bahwa pengguna youtube terbanyak di Indonesia adalah golongan remaja.

Terlepas dari banyaknya manfaat, guna, dan ilmu pengetahuan yang dihadirkan oleh youtube, di sisi lain youtube justru mengesampingkan efek buruk yang ditimbulkan karena youtube serta merta hanya meraup keuntungan tanpa memperhatikan nilai-nilai yang ada di masyarakat (kecuali yang memang sudah controversial dan menimbulkan polemik di masyarakat) mengingat media ini cakupannya pada lingkup internasional. Tak sedikit pula konten-konten negatif seperti konten yang tak mengedukasi, berbau pornografi, kekerasan serta yang berbau LGBT dimana LGBT ini merupakan perilaku penyimpangan seks yang masih ditentang di Indonesia karena juga melanggar nilai-nilai terutama nilai agama, seperti kisah “Bunda Ragil” yang belakangan viral di kalangan masyarakat.

“Bunda Ragil” adalah julukan netizen bagi seorang WNI yang bernama Ragil Mahardika asal Medan yang melakukan pernikahan sesama jenis di Jerman. Ia secara terang-terangan membagikan momen kebersamaan dengan pasangannya di media social dan Youtube, sehingga hal ini membuat penasaran masyarakat. Bayangkan generasi muda alias para remaja jika secara terus menerus menikmati konten ini, walaupun menjadi bahan olok-olokan masyarakat, sedikit banyaknya pasti akan berpengaruh terhadap perilaku seks remaja yang menyimpang.

Konten yang memperlihatkan keseharian sepasang gay ini seakan-akan “mengiyakan” remaja yang sebenarnya memiliki penyakit suka sesama jenis, yang mungkin pada awalnya sangat ditentang oleh lingkungannya, mereka jadi merasa bahwa menyukai sesama jenis ternyata sesuatu yang lumrah dan bisa diterima oleh masyarakat.

Konten Ragil yang terlihat sangat bahagia memberikan stigma positif pada remaja yang memiliki penyakit suka sesama jenis tadi, apalagi jika secara psikologis usia remaja merupakan usia labil sehingga mereka hanya menelan mentah-mentah informasi yang dipaparkan kepada mereka tanpa berpikir panjang. Padahal, kita tidak tau sebenarnya apa yang terjadi di balik layar “kebahagiaan” Ragil tadi. Apakah konten ini sengaja dibuat sebagai suatu bentuk kampanye komunitas LGBT di belahan dunia yang menginginkan keberadaan mereka diseratarakan?atau memang semata-mata hanya untuk entertain? atau untuk mengajak manusia-manusia di berbagai belahan dunia menjadi bagian dari mereka termasuk Indonesia?

Selain remaja penyuka sesama jenis, remaja biasa lainnya juga bisa terkontaminasi jika keviralan bunda ragil ini secara terus menerus menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Misalnya ketika seorang laki-laki yang terlihat kemayu, mereka menyebutnya dengan panggilan bunda sehingga ini secara tidak langsung merubah sikap perilakunya menjadi menyimpang. Inilah yang membawa ketakutan tersendiri bagi kita yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan tentu saja dapat merusak moral bangsa. (*)

Oleh: Laras Dwi Oktari 2120862007

 

UPDATE