
batampos – Krisis air bersih masih terjadi di Kelurahan Tanjunguncang, Kecamatan Batuaji. Hampir semua pemukiman di sana berdampak. Krisis air yang paling parah sebenarnya dirasakan oleh penghuni rumah susun sewa (Rusunawa) Pemko Batam.
Sedikitnya ada tiga Rusunawa Pemko Batam di Tanjunguncang dan semuanya bermasalah dengan pasokan air. Air sama sekali tak mengalir dan suplai air bergantung pada hantaran mobil pemadam kebakaran (Damkar).
Kepala UPT Rusunawa Pemko Batam Roni menyampaikan, ada dua trip yang disuplai mobil Damkar perhari dan itu jauh memenuhi kebutuhan ideal semua penghuni rusunawa.
Baca Juga: Didemo Pelanggan, ABH Janji Kirim Air Untuk Warga Perumahan Bukit Raya
“Ya begitu lah kondisinya. Sudah kita sampaikan ke pengelola tapi kondisinya tetap seperti ini. Kami pengelola memang sering dikomplain sama penghuni tapi mau bagaimana lagi. Mereka cukup sabar dan bisa bertahan dengan suplai dua tanki Damkar per hari,” ujar Roni.
Imbas dari masalah krisis air yang berkepanjangan ini, sudah banyak penghuni rusunawa yang memilih pindah. Penghuni rusunawa di Tanjunguncang menurun drastis dan hanya separuh hunian rusunawa yang masih terisi.
“Yang bertahan ini karena memang kerja dekat sini dan anaknya sekolah di sekolah dekat rusunawa. Kalau tak ada sangkutan saya rasa sudah minggat semua orang dari rusunawa ini. Ya gimana lagi airnya susah,” ujar Roni.
Baca Juga: Persoalan Air Batam Kian Memburuk, Komisi III DPRD Kepri Siapkan Rekomendasi Pimpinan
Siska, seorang penghuni rusunawa Pemko Batam simpang Batamec menuturkan, krisis air bersih yang terjadi di rusunawa sudah terjadi cukup lama. Dia tetap bertahan karena anaknya sudah terlanjur sekolah di SD yang ada di depan Rusunawa. Suaminya juga bekerja di Tanjunguncang.
Penggunaan air bersih yang irit sudah jadi kebiasaan dia sehari-hari. Untuk kebutuhan masak dan minum dia harus membeli air galon isi ulang.
“Memang begini kondisinya sejak awal. Kita sudah sampaikan ke pengelola tapi tetap saja tak ngalir air. Dari pipa sama sekali tak ngalir mau siang ataupun malam. Yang kami pakai setiap hari itu air dari mobil Damkar,” kata Siska. (*)
Reporter: Eusebius Sara



