batampos – Rendahnya tingkat partisipasi aktif pemuda dalam perpolitikan, menjadi penyebab rendahnya keberpihakan kebijakan politik, baik kebijakan politik anggaran, maupun regulasi yang menyangkut kepentingan dan kebutuhan pemuda.
Hal tersebut menjadi topik bahan perbicangan pembahasan peranan pemuda dalam perpolitikan daerah, saat anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kepri Sirajudin Nur, menggelar silaturahmi bersama ratusan pemuda di Tiban, Sekupang Minggu (24/9) lalu.
Pemuda sendiri, menurut politikus PKB ini, sebagian besar masih menganggap politik adalah sesuatu yang asing, membosankan, dan tidak menarik, bahkan dicap penuh kebohongan.
“Hal itu berdampak buruk terhadap regenerasi kepemimpinan di masa mendatang. Faktanya, pemilih dari kalangan pemuda, menjadi pemilih terbesar yang persentasenya mencapai 46,7% secara nasional,” ujar ujar pria yang sudah menjabat sebagai anggota DPRD Kepri dua periode berturut-turut ini.
Sirajudin menegaskan, ada yang penting untuk diperbaiki dari bangsa ini, yakni tentang keteladanan dalam politik.
“Rendahnya partisipasi pemuda, baik secara aktif maupun pasif, tak terlepas dari apatisnya pemuda terhadap perkembangan politik dari waktu ke waktu yang banyak diisi dengan drama politik yang tidak konstruktif dan cenderung negatif,” terang calon anggota DPD RI dapil Kepri ini.

ANGGOTA Komisi IV DPRD Provinsi Kepri Sirajudin Nur (paling kiri) berdiskusi dengan ratusan anak muda di Sekupang terkait tingkat partisipasi pemilih pemuda terhadap pemilu dan politik, Minggu (24/9) malam.
Karena itulah Sirajudin Nur, mengajak semua pihak, termasuk partai politik untuk memperbaiki diri dan citra diri, baik secara personal, maupun kelembagaan (parpol) untuk membangkitkan kembali gairah politik seperti di era kemerdekaan dulu yang memang didominasi kaum pemuda.
Sirajudin mengajak sekaligus mendorong para pemuda untuk melihat kembali tugas dan tanggungjawabnya sebagai warga negara, yang akan mewarisi kepemimpinan bangsa ini di masa mendatang.
“Tak ada yang bisa menjamin dan memastikan bahwa bangsa ini akan terus tumbuh ke arah kemajuan, jika para pemuda-nya hari ini menganggap apatis terhadap politik, dan menjauhkan diri dari kegiatan politik. Daripada mengutuk kegelapan, saya mengajak para pemuda untuk menjadi pelita yang memberi terang dan harapan aka kemajuan negara kita ini,” terangnya.
Keterlibatan pemuda dalam politik, lanjutnya, bisa melalui beragam saluran partai politik, semisal dengan menjadi kader atau pengurus, terlibat dalam organisasi relawan pemilu, penyelenggara pemilu, ataupun menjadi konten kreator politik.
Atas hal itulah, menurutnya sangat penting bagi pemuda, untuk memiliki pengetahuan ataupun kompetensi dasar dalam politik, dengan cara memperdalam literasi politiknya, serta komunikasi politik.
“Harapan kita semua, agar kualitas kepemimpinan di daerah dan negara di masa mendatang, akan bisa berubah jauh lebih baik dari yang ada saat ini,” tegasnya mengakhiri. (adv/*).



