
batampos – Pembangunan Masjid Tanjak yang menelan dana sekitar Rp39 miliar, melibatkan banyak orang dalam pengerjaanya. Kepala BP Batam Muhammad Rudi menyebut desain Masjid Tanjak, pengawas, konsultan hingga pengembangnya ditenderkan.
Semuanya, melalui sistem dan mekanisme yang ada. Namun, ada beberapa hal yang terlihat janggal, meskipun ada perencanaan dan pengawasan, tapi masuknya air luput dari pantauan.
Hal ini disampaikan oleh pengamat arsitektur yang juga mantan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kepri, Supriyanto.”Model Masjid Tanjak saya terus terang tidak melihat detail gambarnya. Sekilas tidak ada atap menjulur keluar (tritisan). Jika air dan angin masuk ke plafon, berarti ada lubang. seharusnya dipikirkan (perencanaan) terkait hal itu,” kata Supriyanto, Minggu (11/9).
Perencanaan sebuah bangunan, haruslah benar-benar matang. Sehingga membuat bangunan tahan dalam berbagai kondisi. Kasus Masjid Tanjak, kata Supriyanto mengatakan apakah perencana tidak membaca adanya peluang masuknya air atau hujan ke plafon.
Jika memang tidak terbaca, Supriyanto mengatakan pengawas bisa memperhatikan itu. “Mestinya pengawas, sebab mengawasi setiap harinya pembangunan. Jika ada temuan, bisa laporkan ke bagian perencanaan. Ada lubang tempat air atau angin masuk, sehingga bisa revisi gambar. Prosesnya seperti itu biasanya, dalam pembangunan,” ungkapnya.
Terkait dengan Masjid Tanjak, solusinya adalah lubang-lubang penyebab air masuk harus ditutup. Atau mencari cara agar air tidak masuk ke lubang-lubang tersebut.
Supriyanto mengatakan jika hanya mengganti plafon, tanpa mencari penyebab masuknya air, kejadian serupa akan terulang. Ke depan kejadian robohnya plafon bisa terjadi. “Jika memang air menjadi penyebabnya, sebab plafon bisa roboh lagi,” ujarnya.
Gipsum, kata Supriyanto, adalah bahan yang tidak tahan akan air. Jika memang ada potensi air masuk, bahan plafon bisa diganti dengan PVC atau Polyvinyl Chloride.
PVC merupakan sejenis polimer yang kerap dijadikan bahan pembuatan pipa air.”Plafon PVC air masuk pun tidak masalah. Hanya air akan menetes saja ke lantai,” ujar Supriyanto.
Terkait gipsum, sebelumnya mengatakan hal yang sama Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kepri, Mulia Pamadi. Ia mengatakan gipsum bukanlah bahan yang tahan terhadap air. Saat terkena air, maka akan mengurangi kekuatannya.
“Saat kering dia kuat, saat basah jadi lumer,” ungkap Mulia.
Atas kejadian jatuhnya plafon ini. BP Batam sudah memulai pemeriksaan dan investigasi. Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Humas, Promosi dan Protokol BP Batam, Ariastuty Sirait beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan bahwa pemeriksaan atas kejadian ini telah dilakukan oleh Satuan Pemeriksa Intern (SPI) BP Batam. Ariastuty mengatakan investigasi juga sedang dilakukan. Investigasi ini bentuk dari pemeliharaan dan antisipasi dari kejadian serupa.
“Pemeliharaan ini dilakukan tanpa penambahan biaya. Bila ada biaya yang timbul atas perbaikan tersebut untuk kesempurnaan Masjid Tanjak Batam ditanggung oleh kontraktor, karena masih masa pemeliharaan,” ujar Ariastuty.
Pemeliharaan ini, kata Ariastuty, diperkirakan berlangsung selama dua bulan. Selama masa pemeliharaan, Ariastuty mengimbau kepada masyarakat untuk sementara waktu, kegiatan peribadatan di Masjid Tanjak Batam belum bisa dilakukan. (*)
Reporter : FISKA JUANDA



