
batampos – Universitas Terbuka (UT) kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Salah satu program studinya, yakni Program Doktor Ilmu Manajemen, baru saja meraih akreditasi unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi (LAMEMBA). Pencapaian ini sekaligus menegaskan kualitas UT Batam sebagai perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh yang kredibel terpercaya di Indonesia dan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Direktur UT Batam, Angga Sucitra Hendrayana, menyampaikan bahwa akreditasi unggul untuk program doktor ini menjadi bukti bahwa sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh (PTTJJ) yang diterapkan UT memiliki mutu setara dengan perguruan tinggi konvensional. Menurutnya, UT Batam terus berbenah, tidak hanya dari sisi sistem pembelajaran yang fleksibel, tetapi juga dari kualitas kurikulum, layanan akademik, hingga sumber daya pengajar.
“Alhamdulillah, Program Studi Doktor Ilmu Manajemen kami telah mendapatkan akreditasi unggul dari LAMEMBA. Ini adalah salah satu pencapaian besar dan menjadi pengakuan bahwa UT Batam layak menjadi pilihan utama masyarakat Kepri yang ingin menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang S3,” ungkap Angga, Selasa (22/7).
UT Batam saat ini memiliki empat fakultas utama dan satu program pascasarjana yang menaungi 57 program studi dari jenjang diploma, sarjana, magister hingga doktor. Empat fakultas tersebut yakni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Sementara Program Pascasarjana UT Batam saat ini telah membuka Program Magister dan Doktor, dengan jumlah peminat yang terus meningkat.
Seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat, UT Batam mencatat pendaftaran mahasiswa baru mencapai lebih dari 4.000an orang hingga pertengahan Juli 2025. Dari jumlah itu, sekitar 3.200an orang telah melakukan daftar ulang dan membayar biaya pendaftaran yang sangat terjangkau, yakni hanya Rp100.000. Pendaftaran mahasiswa baru akan ditutup pada 5 Agustus 2025.
“Saat ini jumlah mahasiswa aktif kami sekitar 15 ribuan orang yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Kepri. Ini menunjukkan bahwa model pembelajaran jarak jauh sangat sesuai dengan kondisi geografis Kepri yang terdiri dari pulau-pulau dan wilayah laut,” jelas Angga.
UT Batam menawarkan biaya pendidikan yang relatif terjangkau. Untuk program S1, biaya kuliah dimulai dari Rp1.150.000 hingga Rp3.300.000 per semester, tergantung jenis paket dan program studi yang diambil. Untuk jenjang Magister, mahasiswa cukup membayar sekitar Rp8,5 juta per semester. Sedangkan Program Doktor dikenakan biaya Rp12,5 juta per semester. Bagi mahasiswa yang mengambil sistem non-paket, biaya kuliah dihitung berdasarkan SKS.
Angga juga menegaskan bahwa UT membuka peluang luas bagi siapa saja yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi tanpa batasan usia, tahun ijazah, maupun masa belajar.
“Kami adalah perguruan tinggi yang terbuka. Cukup lulus SMA atau sederajat, semua masyarakat bisa kuliah di UT. Tidak harus meninggalkan pekerjaan atau aktivitas harian karena pembelajaran bisa dilakukan secara fleksibel dari mana saja, kapan saja,” ujarnya.
Sebagai pelengkap sistem belajar mandiri, UT Batam juga menyediakan layanan akademik pendukung seperti orientasi mahasiswa baru, pelatihan keterampilan belajar jarak jauh, workshop penyusunan tugas, dan klinik ujian untuk menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS). Tujuannya adalah untuk membantu mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu dan meraih nilai memuaskan.
“Belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri. Kami siapkan banyak layanan agar mahasiswa tetap merasa didampingi. Inilah keunggulan sistem kami,” tegasnya.
Pada akhir Agustus 2025 mendatang, UT Batam juga akan menggelar wisuda bagi sekitar 1.000an mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan mereka.
Dengan pencapaian akreditasi unggul dan sistem pendidikan yang fleksibel, UT Batam semakin menunjukkan perannya sebagai jendela kesempatan pendidikan tinggi yang berkualitas, terjangkau, dan inklusif untuk seluruh masyarakat Kepri. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



