Jumat, 13 Maret 2026

Pupuk Mahal, Petani di Batam Berhenti Menanam Sayur

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Agus, petani cabai di Marina, sedang melihat tanamannya sebelum dipanen. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos – Petani sayur di Marina dan Barelang sudah cukup lama berhenti menanam sayuran karena mahalnya harga pupuk. Mereka beralih ke tanaman jangka panjang lain yang memang tidak terlalu membutuhkan biaya perawatan.

Cabai dan singkong adalah tanaman yang paling banyak dijumpai di perkebunan sayur di Barelang ataupun Marina saat ini. Dua jenis tanaman ini tidak terlalu membutuhkan biaya. Untuk caba petani memang membutuhkan modal namun tak sebanyak menanam sayuran.

“Sejak awal tahun kemarin tak nanam sayur karena pupuk mahal. Cuaca juga kurang mendukung. Hujan terus sehingga tanaman sayuran mudah membusuk,” kata Dedi, petani sayur di Marina.

Toni, petani sayur lainnya menuturkan, keputusan untuk berhenti menanam sayur ini sudah tepat. Harga pupuk saat ini perkarung mencapai Rp 800 ribu tentu tak seimbang dengan hasil panennya nanti. Jikapun bisa, keuntungannya hanya sedikit dan harus kerja keras.

“Lebih capek lagi karena harus tinggikan bedeng biar tak membusuk akar sayur (karena hujan terus). Tapi banyak sudah tak mau tanam sayur lagi karena repot dan untungnya sedikit. Modal untuk pupuk kebesaran,” katanya.

Sebagian petani beralih ke tanaman lain yang tidak terlalu membutuhkan biaya perawatan seperti singkong, tebu, dan pepaya. Ada juga yang fokus merawat tanaman cabai lantaran harga cabe cukup tinggi saat ini.

“Untuk sayur istirahat dulu. Tak sanggup karena pupuk sekarung mendekati Rp 800 ribu sekarang. Biasanya sekarung sekitar Rp 350 ribu. Tanam yang lain dulu yang tidak membutuhkan biaya perawatan,” ujar Jhoni, petani sayur di Marina.

Saat harga pupuk normal, kata Jhoni, sekitar satu hektar kebunnya mampu produksi 30 hingga 50 kilogram sayur per hari. Itu sudah cukup baginya sebagai petani yang setiap hari mengurus kebun.

“Segitu dengan harga yang stabil tapi pupuk juga murah masih bisa lah bertahan. Sekarang susah karena pupuk mahal. Tak terkejar lagi. Rugi malah yang ada kalau maksa tanam sayur. Belum cuacanya lagi yang kurang bersahabat,” kata Jhoni. (*)

 

 

Reporter: Eusebius Sara

SALAM RAMADAN