batampos – Menjelang sore, aroma khas gorengan, es buah, dan berbagai hidangan manis mulai menguar di udara. Di sudut-sudut kota, dari jalanan utama hingga gang-gang perumahan, deretan lapak takjil bermunculan, menawarkan aneka makanan berbuka puasa.
Ramadan di Batam selalu diwarnai dengan ratusan titik bazar yang menjadi magnet bagi warga mencari santapan pelepas dahaga setelah seharian berpuasa. Demi memastikan higienitas makanan, Pemko Batam melakukan pengawasan rutin.
Pengawasan ini dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, melalui puskesmas di setiap kecamatan. Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan, bahwa petugas Puskesmas akan mengambil sampel makanan secara swadaya dan mengujinya menggunakan test kit khusus.
“Mereka membeli sampel lalu memeriksanya. Pengujian ini bertujuan mendeteksi adanya bahan berbahaya seperti formalin, boraks, Rhodamin B, dan Methanil Yellow,” ujar Didi, Sabtu (1/3).
Jika ditemukan makanan mengandung zat berbahaya, Dinkes akan memberikan pembinaan dan peringatan kepada pedagang. Namun, Didi juga mengingatkan agar konsumen lebih waspada terhadap jajanan yang mereka konsumsi.
“Masyarakat harus lebih aware (peduli atau memperhatikan) dan mengenali ciri-ciri makanan yang tidak aman. Jangan hanya tergiur dengan tampilan menarik atau harga murah,” ucap Didi.
Beberapa zat kimia berbahaya yang sering ditemukan dalam jajanan Ramadan antara lain, formalin yang digunakan sebagai pengawet mayat. Zat kimia ini membuat makanan tidak mudah basi meski disimpan di suhu ruang. Ciri-cirinya antara lain tekstur lebih kenyal dan keras, bau menyengat seperti obat atau antiseptik, serta rasa yang agak pahit dan tidak alami. Zat ini biasanya ditemukan dalam tahu, mie basah, ikan asin, bakso, dan daging olahan.
Boraks, bahan pembersih yang sering disalahgunakan dalam makanan, membuat tekstur lebih kenyal dan kaku, warna lebih mengkilap, serta rasa agak getir atau pahit. Boraks kerap ditemukan dalam bakso, mie basah, lontong, kerupuk, dan cilok.
Rhodamin B, pewarna tekstil berwarna merah yang berbahaya bagi kesehatan, memiliki warna merah mencolok, lebih terang dari warna alami, larut dalam air dengan warna tidak merata, dan meninggalkan noda pada tangan atau mulut setelah dikonsumsi. Zat ini sering ditemukan dalam kerupuk warna-warni, sirup, es lilin, terasi, dan saus cabai.
Methanil Yellow, pewarna tekstil kuning yang sering disalahgunakan, memiliki warna kuning sangat terang dan mencolok, tidak mudah larut dalam air secara merata, meninggalkan noda pada tangan atau alat makan, serta memiliki rasa agak pahit dan tidak alami.
Biasanya ditemukan dalam tahu kuning, kerupuk kuning, mie kuning, dan gorengan.
Agar terhindar dari makanan berbahaya, masyarakat disarankan memilih makanan dengan warna alami yang tidak mencolok, memeriksa tekstur makanan, menghindari makanan yang terlalu kenyal atau tahan lama, serta tidak tergiur dengan aroma yang tidak wajar. Membeli makanan dari pedagang terpercaya atau membuat sendiri di rumah juga menjadi langkah terbaik.
“Pastikan produk kemasan memiliki label BPOM. Jika menemukan makanan yang dicurigai mengandung bahan berbahaya, masyarakat dapat melaporkannya ke BPOM atau dinas kesehatan setempat,” ujar Didi.
Dengan pengawasan ketat dari Dinkes Batam dan kesadaran masyarakat dalam memilih makanan, diharapkan jajanan Ramadan tahun ini lebih aman dan sehat bagi semua.
Sementara itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam mencatat bahwa tahun ini ada ratusan lokasi bazar takjil yang tersebar di seluruh kecamatan.
Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata, mengatakan, hampir semua titik yang pernah menggelar bazar pada tahun-tahun sebelumnya kembali hadir tahun ini. Tak hanya di pusat kota, bazar Ramadan kini juga semakin menjamur di perumahan-perumahan dan pasar tradisional.
“Yang jelas, banyak sekali bazar Ramadan di Batam tahun ini. Ini mengindikasikan bahwa perputaran ekonomi cukup baik,” ujar Ardiwinata, Sabtu (1/3).

Bazar Ramadan yang tersebar di berbagai lokasi ini, kata Ardi akan berlangsung selama satu bulan penuh. Selain menjadi ajang belanja kebutuhan berbuka puasa dan sahur, bazar juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk berinteraksi dan menikmati suasana Ramadan.
Selain bazar yang digelar oleh masyarakat, Pemerintah Kota (Pemko) Batam juga mengadakan bazar dengan konsep ekonomi kreatif dan kepariwisataan. Kegiatan ini berlangsung di Taman Dang Anom, yang sudah enam tahun berturut-turut menjadi pusat bazar tematik Ramadan.
“Dengan tema Batam Wonderfood and Art Ramadan yang keenam, bazar di Taman Dang Anom menghadirkan suasana berbeda. Di sana, pengunjung tidak hanya berbelanja, tetapi juga bisa berbuka bersama dan menikmati berbagai acara,” kata Ardi.
Bazar di Taman Dang Anom menyediakan panggung yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan sosial, seperti berbagi buka puasa dengan anak yatim dan acara amal lainnya. Hal ini menjadikan bazar tersebut lebih dari sekadar tempat jual beli, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan.
Tak hanya itu, kawasan Taman Dang Anom yang asri menjadi daya tarik tersendiri bagi keluarga untuk menghabiskan waktu sore menjelang berbuka puasa. Suasana senja yang indah menambah kenyamanan bagi para pengunjung.
Fasilitas pendukung pun disediakan, termasuk musala yang dapat digunakan mulai dari salat asar hingga maghrib. Hal ini memudahkan para pengunjung untuk tetap menjalankan ibadah di tengah aktivitas berbelanja dan berbuka puasa.
Menurut Ardi, setiap tahun jumlah bazar Ramadan di Batam terus bertambah. Meski data pastinya masih dalam proses pendataan, perkiraan awal menunjukkan ada ratusan bazar yang tersebar di berbagai titik di kota ini.
Dia berharap, roda perekonomian masyarakat Batam terus bergerak positif selama Ramadan. Bazar Ramadan tidak hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi katanya juga ruang interaksi sosial yang memperkuat kebersamaan di bulan penuh berkah. (*)
Reporter : ARJUNA / AZIZ MAULANA



