Sabtu, 24 Januari 2026

Rekan Sejawat Tak Percaya Hafiz Pelaku Bullying: “Dia Terlalu Baik untuk Menyakiti”

spot_img

Berita Terkait

spot_img
lokasi penikaman honorer. f. rengga/Batam Pos

batampos – Kematian tragis Hafiz Rinanda, 29, pegawai honorer di Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Batam, menyisakan luka mendalam bagi orang-orang terdekatnya. Hafiz meregang nyawa usai diduga digorok oleh rekan kerjanya sendiri, Faras Kausar, 26, yang juga merupakan teman satu kampusnya semasa kuliah.

Hafiz dikenal sebagai pribadi yang hangat, bersahaja, dan penuh canda. Teman-temannya, baik semasa kuliah maupun di lingkungan kerja, tak pernah melihat sisi gelap dari pria asal Kampar, Riau, tersebut. Kabar kematiannya yang disertai narasi dugaan perundungan terhadap pelaku, sangat sulit dipercaya oleh rekan-rekannya.

“Saya dan istri sama-sama kenal Hafiz sejak kuliah. Kami satu jurusan, satu kelas di UIN, jurusan Hukum. Sampai detik ini kami masih tidak percaya dengan tudingan bahwa dia membuli. Dia terlalu baik untuk itu,” ujar F, rekan dekat korban saat di temui di Kamar Jenazah RSBP Batam, Senin (14/4).

Menurut F, Hafiz adalah sosok yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga memiliki empati tinggi kepada orang-orang di sekitarnya. Ia dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul, suka memulai percakapan, dan selalu memperlakukan teman sebagai keluarga.

“Orangnya care banget. Dia kalau bercanda itu nggak pernah nyakitin, nggak pernah pakai kata-kata kasar. Bercandanya wajar, malah sering bikin suasana jadi cair,” kenang F.

F terakhir kali bertemu dengan Hafiz dua tahun lalu, saat Hafiz baru saja menikah. Karena kesibukan masing-masing, komunikasi sempat terputus, namun F selalu mendengar kabar baik tentang Hafiz, termasuk soal keluarganya yang harmonis dan anak pertamanya yang kini berusia sekitar 1,5 tahun.

Anak laki-laki Hafiz saat ini berada di kampung halaman, dibawa pulang usai lebaran lalu. Hafiz dan istrinya sepakat membawa anak ke Kampar karena keduanya sibuk bekerja di Batam. Kabar duka ini menjadi pukulan berat bagi sang istri.

“Istrinya sempat pingsan di RSBP begitu tahu kabar suaminya meninggal. Sampai sekarang masih trauma berat,” ucap F lirih.

Menurutnya, sejak kuliah hingga bekerja, Hafiz tak pernah menunjukkan sikap yang bisa menyinggung orang lain. Ia dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan, jauh dari kesan kasar atau arogan.

“Kalau soal ngebully, rasanya gak masuk akal. Karena selama saya kenal dia dari kuliah sampai sekarang, gak ada catatan buruk tentang dia, termasuk kepada teman-teman yang lain. Dia bukan tipe orang yang suka menyakiti, malah sebaliknya, selalu berusaha buat orang nyaman,” ujarnya.

Jenazah Hafiz rencananya akan dipulangkan ke kampung halamannya di Kampar, Riau, untuk dimakamkan. Pihak keluarga tengah mempersiapkan proses pemulangan tersebut. Rekan-rekan korban di lingkungan kerja dan kuliah turut memberikan penghormatan terakhir.

“Kami tidak membela siapa-siapa, tapi kami hanya ingin menyampaikan bahwa Hafiz yang kami kenal bukan seperti yang diberitakan. Dia terlalu baik untuk berbuat sejauh itu,” tutur F.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konflik pribadi, sekecil apapun, jika tak diselesaikan dengan bijak, bisa berujung tragis. Kepergian Hafiz bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tapi juga duka mendalam bagi mereka yang pernah mengenalnya sebagai sahabat, rekan kerja, dan saudara. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update