Kamis, 29 Januari 2026

Rekat Talkshow Vol I, Berkaryalah dengan Jujur, Karya yang Jujur akan Menemukan Pendengarnya Sendiri

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Rekat Talkshow Vol I. “Bangun Ekosistem, Bukan Sekadar Panggung”, kegiatan ini menjadi ruang temu musisi, seniman visual, media, hingga sound engineer duduk setara membincangkan masa depan musik Batam. Foto. Rio Alfian untuk Batam Pos

batampos – Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Thirsty Lab, Batam Kota, Kamis (24/4) malam. Bukan karena dentuman musik yang biasa menghentak, melainkan karena gelombang ide, keresahan, dan harapan yang ditularkan para pelaku musik lokal dalam Rekat Talkshow Vol I.

Mengangkat tema “Bangun Ekosistem, Bukan Sekadar Panggung”, kegiatan ini menjadi ruang temu musisi, seniman visual, media, hingga sound engineer duduk setara membincangkan masa depan musik Batam.

Tak hanya bicara soal pertunjukan, diskusi berkembang pada tantangan yang dialami musisi independen, pentingnya regenerasi, hingga transformasi selera publik akibat media sosial. Semua diramu dalam suasana yang cair, tetapi sarat makna. Sebuah oase diskusi yang dibutuhkan oleh ekosistem musik yang sedang mencari bentuknya.

Salah satu yang mengemuka adalah soal minimnya regenerasi musisi di daerah. KS Aji, musisi sekaligus produser yang tumbuh besar pada sajian musik sejak era 90-an, menyampaikan keresahannya.

Ia melihat kondisi kini dengan masa lalu, ketika festival dan pentas seni menjadi lahan subur tumbuhnya musisi muda.

“Anak sekolah sekarang jarang terlihat terlibat aktif dalam kegiatan musik. Kita khawatir tidak ada yang meneruskan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti bagaimana tren kompetisi yang difasilitasi pemerintah lebih condong pada format lomba ketimbang membangun ruang eksplorasi.

Menurutnya, semangat kreatif tidak bisa tumbuh dalam tekanan menang-kalah. “Makanya kita gelar talkshow ini. Biar gairah itu terpicu. Musik itu tetap disukai, hanya caranya sekarang sudah berbeda,” tambahnya.

Bagi Adeltra, drummer band Cigarettes Wedding asal Pekanbaru, musik tetaplah bahasa universal yang tak mengenal batas usia maupun wilayah. Ia menegaskan bahwa tantangan saat ini bukan pada selera, tetapi bagaimana komunikasi antar-generasi musisi bisa terjadi dengan efektif.

“Musik itu akan selalu mengalir. Tapi apakah kita, yang lebih dulu, siap membuka dialog dengan generasi baru?” tuturnya.

Sementara Fadli dari S.O.N Records mendorong para pemula untuk tidak terjebak pada batas-batas genre. “Kalau mau mulai, jangan terlalu pikirin skill. Berani aja tampil beda. Karakter lebih penting,” kata dia .

Ia mengutip contoh band-band masa kini seperti Milledenials dari Bali yang berani menggabungkan pop punk dengan shoegaze berdurasi panjang. Atau bagaimana RnB yang kini berpadu dengan soul, dan bisa viral hanya lewat cuplikan 15 detik di TikTok.

“Zaman sekarang orang mendengar musik lewat potongan. Tapi itu bukan alasan untuk berkarya setengah-setengah,” imbuhnya.

Fadli juga menyoroti visualisasi dalam musik yang ikut bertransformasi. “Flyer, cover album, semua jadi simpel tapi tetap kuat kesan dan pesannya . Yang penting pesannya nyampe,” jelasnya.

Semangat berkarya tanpa takut menjadi kunci yang dipegang Rizki, personel band Rissau. Baginya, semua berawal dari keberanian untuk mencoba. “Rekam, bikin, dan berani dilempar ke publik. Jangan takut. Musik itu tentang berekspresi,” katanya. Ia percaya bahwa karya yang jujur akan menemukan pendengarnya sendiri.

Hal senada ditegaskan kembali oleh KS Aji. “Musik itu bergerak. Seniman itu tidak pernah stagnan. Belajar, eksplorasi, itu proses alami. Tapi yang paling penting, berkaryalah dengan jujur. Hasilnya pasti keren.”

Rekat Talkshow Vol I mungkin hanya satu malam di satu sudut kota. Tapi makna dan semangatnya adalah lilin kecil yang bisa menyalakan ruang-ruang kreatif lain.

Bahwa membangun ekosistem musik tidak melulu soal panggung megah atau sorot lampu, melainkan keberanian untuk bertanya, mendengar, dan saling menguatkan.

Di tengah perubahan zaman yang cepat dan budaya musik yang makin cair, satu hal tetap: musik akan selalu menemukan jalannya selama ada ruang untuk bertumbuh. (*)

Reporter: Aziz Maulana

Update