Rabu, 28 Januari 2026

Rentetan Kecelakaan Kerja di Batam: Puluhan Nyawa Melayang

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Korban ledakan kapal tanker Federal II di PT ASL Shipyard.

batampos – Sepanjang tahun 2025 ada serangkaian kecelakaan kerja yang merenggut korban nyawa pekerja juga mencoreng wajah industri Batam. Dalam catatan Batam Pos, sepanjang empat bulan terakhir, puluhan pekerja tewas akibat berbagai insiden di kawasan industri, mulai dari proyek bangunan, manufaktur, hingga galangan kapal. Tragedi terbaru di PT ASL Marine Shipyard, Tanjunguncang, menjadi alarm keras bahwa penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) masih menjadi titik lemah di sektor industri terbesar di Batam.

Peristiwa paling baru terjadi Rabu (15/10) dini hari, ketika kapal tanker Federal II kembali terbakar hebat di area pengerjaan PT ASL Marine Shipyard. Ledakan besar di dalam tangki kapal menewaskan sedikitnya 10 pekerja dan melukai belasan lainnya. Hingga kini, Polresta Barelang bersama tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran maut tersebut.

Kapolresta Barelang Kombes Pol Zaenal Arifin mengungkapkan, enam saksi dari pihak subkontraktor dan perusahaan utama telah diperiksa. “Kami juga telah berkoordinasi dengan Labfor Mabes Polri untuk jadwal olah TKP. Lokasi masih kami police line sampai penyelidikan selesai,” ujarnya. Polisi menegaskan tidak ada aktivitas di kapal sebelum investigasi tuntas dilakukan.

Baca Juga: Batam Darurat K3: Kasus PT ASL dan Krisis Keselamatan di Galangan Kapal

Tragedi Federal II bukan yang pertama di lokasi tersebut. Pada 24 Juni 2025, kapal tanker yang sama juga terbakar di galangan PT ASL Marine Shipyard, menewaskan lima pekerja dan melukai empat lainnya. Dua peristiwa beruntun ini membuat PT ASL Shipyard menjadi sorotan utama dalam isu keselamatan kerja industri perkapalan di Batam. Proses hukum terkait insiden pertama masih bergulir hingga kini.

Namun, rangkaian kecelakaan kerja di Batam telah dimulai jauh sebelum itu. Pada 16 Juni 2025, seorang karyawan vendor PT BBJMU berinisial J (27) tewas setelah terjatuh saat memperbaiki kontainer di kawasan PT Batamindo Service Sinindo (BSS), Mukakuning, Sei Beduk. Hanya berselang sehari, 17 Juni, buruh bangunan H (52) juga meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai tujuh bangunan ruko di Palm Spring, Batam Center.

Bulan berikutnya, pada 5 Agustus 2025, pekerja operator forklift SST (31) meninggal tertimpa plat besi di PT Sumber Samudra Makmur, Batuampar. Dua hari kemudian, 7 Agustus, insiden tragis kembali terjadi di PT Sumber Marine Shipyard, Tanjunguncang. Seorang pekerja muda, M. Raudhul Ma’ari (21), ditemukan tewas di dalam tangki kapal dengan mesin gerinda masih menyala di atas tubuhnya, diduga akibat sengatan listrik saat bekerja.

Rentetan kecelakaan kembali berlanjut di PT Lestari Ocean Indonesia (LOI), Sagulung, pada Senin (18/8/2025). Seorang supervisor berpengalaman, Ignasius Igo (43), ditemukan tewas setelah hilang saat menyelam untuk mengecek balon ganjalan kapal tongkang di bawah lambung kapal. Upaya pencarian sempat berlangsung beberapa jam sebelum jasadnya ditemukan tak bernyawa.

Rangkaian insiden berdarah ini menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan pekerja dan serikat buruh. Mereka menilai lemahnya pengawasan dan pelaksanaan standar K3 menjadi faktor utama banyaknya korban. Apalagi, sebagian besar kecelakaan terjadi di kawasan padat industri yang melibatkan pekerja subkontraktor dengan sistem kerja ketat dan minim perlindungan.

Pemerintah Kota Batam dan BP Batam pun diminta turun tangan meninjau ulang prosedur keselamatan di setiap kawasan industri. Tragedi demi tragedi yang menelan korban jiwa ini dianggap tak bisa lagi dianggap sebagai “kelalaian individu,” melainkan persoalan sistemik yang menuntut pembenahan menyeluruh di sektor industri Batam. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update