Jumat, 1 Mei 2026

Robohnya Plafon Masjid Tanjak yang Berbiaya Rp 39 Miliar

Berita Terkait

Masjid Tanjak di Bundaran BandaraInternasional Hang Nadim Batam. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Anggota Ditpam melaporkan kondisi plafon Masjid Tanjak ke seseorang bernama David. Salah seorang anggota Ditpam lainnya terlihat sedang melakukan pengecekan terhadap sebongkah plafon baru saja jatuh, Kamis (8/9) pagi.

Saat kedua anggota Ditpam ini melaporkan mengenai kondisi Masjid Tanjak, tiba-tiba potongan plafon berjatuhan dari langit-langit Masjid Tanjak, dari arah kanan ke kiri.

“Astaghfirullah, astaghfirullah,” kata beberapa warga yang ada di Masjid Tanjak, dalam potongan video satu menit yang tersebar melalui aplikasi WhatsApp.

Batam Pos mencoba melihat langsung kondisi Masjid Tanjak. Namun, saat memasuki gerbang parkir masjid, sudah ada tiga anggota Ditpam BP Batam yang berjaga.

Usai dijelaskan maksud kedatangan ke Masjid Tanjak. Tiga anggota Ditpam tidak memperbolehkan, Batam Pos memasuki area Masjid Tanjak. “Atasan (kami) tidak memperbolehkan masuk,” kata salah seorang anggota Ditpam.

Dari kejauhan terlihat para anggota ditpam dan polisi, memperhatikan puing-puing plafon. Lalu, ada petugas yang membersihkan puing-puing plafon dan memasukan ke dalam pick up putih. Puing-puing ini dibuang tak jauh dari area Masjid Tanjak.

Sepagi itu, polisi dan ditpam tidak hanya berjaga di pintu parkiran, tapi juga dari bagian depan Masjid Tanjak. Area masjid ditutup dan hanya orang-orang berkepentingan saja diperbolehkan masuk.

Beberapa masyarakat yang juga mencoba masuk untuk melaksanakan salat Duha juga tidak diperbolehkan ke dalam. “Maaf tidak boleh masuk pak,” kata petugas Ditpam.

Curah hujan tinggi, yang disebut menjadi dalang penyebab robohnya plafon Masjid Tanjak. Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Humas, Promosi dan Protokol BP Batam, Ariastuty Sirait.

Dalam rilisnya, Ariastuty menyampaikan tingginya intensitas curah hujan di sejumlah wilayah, turut mengakibatkan kerusakan terhadap Masjid Tanjak.

“Memang benar plafon masjidnya jatuh. Karena kelembaban yang ada di plafon masjid tersebut,” ujar Ariastuty.

Ariastuty menjelaskan hujan masuk ke lubang bagian atas Masjid Tanjak. Tempias masuk melalui rongga-rongga masjid, jatuh ke plafon yang berbahan gipsum.

Sehingga, lama-lama menyebabkan plafon rusak dan runtuh. Terkait dengan pembangunan bagian plafon ini dan desain dari Masjid Tanjak, kata Ariastuty sudah dikaji dengan kaidah yang berlaku.

“Apabila ada masukan tentunya BP Batam akan mengkaji hal tersebut,” ujarnya.

Akibat kerusakan ini, Ariastuty menyebut Masjid Tanjak ditutup untuk umum. Sehingga, Salat Jumat di Masjid Tanjak hari ini pun ditiadakan sementara waktu.

“Ini kami lakukan untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan dan mengganggu kekhusyukan beribadah jemaah,” ujar Ariastuty.

Kerusakan plafon disebut hanya 35 persen saja. Ariastuty mengatakan sesuai arahan Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, agar segera menugaskan Satuan Pemeriksa Intern (SPI) BP Batam melakukan pengawasan pelaksanaan pemeliharaan.

“Ini masih tanggung jawab dari kontraktor karena masih dalam masa pemeliharaan,” ucap Ariastuty.

Hujan disebut menjadi salah satu pelaku utama yang membuat plafon jatuh. Batam Pos mencoba meminta data curah hujan dan angin ke BMKG Hang Nadim Batam.

Berdasarkan data BMKG Hang Nadim Batam, 6 September curah hujan 6,8 milimeter dengan kecepatan angin 6 kilometer per jam. 7 September curah hujan 16,7 milimeter, dengan kecepatan angin 8 kilometer per jam.

Sedangkan di 8 September, curah hujan 0 milimeter dan kecepatan angin rata-rata 10 kilometer per jam

Koordinator Bidang Data dan Informasi Stamet Hang Nadim, Suratman menyebutkan curah hujan yang turun, masuk dalam kategori yang rendah. Begitu juga dengan kecepatan angin. Perhitungan ini berdasarkan probabilistik curah hujan 24 jam.

“Satu milimeter hujan berarti air hujan yang turun di wilayah seluas satu meter persegi, akan memiliki ketinggian satu milimeter jika air hujan tidak meresap, mengalir, atau menguap,” ungkap Suratman.

Ia menjelaskan mengenai batas nilai dalam intensitas hujan, 0 milimeter kategori berawan, 0,5 sampai 20 milimeter kategori ringan, 20 sampai 50 milimeter kategori hujan sedang, 50 sampai 100 milimeter kategori hujan lebat, 100 sampai 150 milimeter kategori hujan sangat lebat dan diatas 150 milimeter masuk kategori hujan ekstrem.

Masuknya air ke dalam Masjid Tanjak tidak sekali ini saja. 16 Juni lalu, delapan hari jelang peresmiannya (24/6), air masuk ke dalam masjid. Video masuknya air ini juga menjadi viral.

Sekarang, belum genap 3 bulan sejak diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto, plafon Masjid Tanjak roboh.

Padahal biaya pembangunan Masjid Tanjak ini cukup fantastis yakni Rp39 miliar, yang bersumber dari pembiayaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Sedikit (air) tidak begitu menganggu. Tapi secara ekstrem mengganggu,” kata pengamat arsitektur, Supriyanto yang juga mantan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kepri.

Ia menyarankan jika memang ada masuk air atau angin, maka solusinya lubang-lubang penyebab masuknya air haruslah ditutup.

Saat diperlihatkan bentuk rangka plafon yang hancur dan roboh. Supriyanto melihat hal itu akibat dampak dari angin. “Saya melihatnya secara profesional yah,” ujarnya.

Rangka plafon terlihat tergulung dan melengkung. Supriyanto menduga kemungkinan saat kejadian ada angin yang cukup kuat. Gulungan angin yang berada di atas rangka, sehingga membuat plafon lepas satu demi satu.

“Rangkanya terlipat,” tuturnya.

Dari video dan beberapa foto yang dikirimkan, Supriyanto menduga rangka plafon tidak mengantisipasi dampak dari angin. “Tapi kalau angin tidak masuk ruangan plafon, mungkin rangka itu kuat. Itu dugaan sementara dari yang salah lihat yah,” ucapnya.

Faktor angin dan air, menjadi penyebab utama dari robohnya plafon. Sehingga menyebabkan puring tidak kuat menahan plafon.

“Gipsum adalah bahan yang tidak tahan air. Apabila kena air jadinya tidak kokoh, dan bisa lumer,” tutur Supriyanto.

Ia menyarankan pembuatan rangka plafon, haruslah mempertimbangkan masuknya angin dan air.

Sebagai tambahan informasi, Masjid Tanjak dibangun oleh PT Nenci Citra Pratama, sebagai kontraktor pemenang tender. Konsultan perencanaan Ir Y Seno Prakoso dan Konsultan Supervisi PT Narga Saraba Bhumi.

Kejadian robohnya plafon Masjid Tanjak ini, menjadi perhatian dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus). Anggota dari Subdit Tindak Pidana Korupsi Ditreskrimsus, terlihat menyambangi masjid dan melihat bekas puing-puing plafon yang sudah dibersihkan.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kepri, Kombes Pol Teguh Widodo membenarkan ada anggotanya yang melakukan pengecekan. “Anggota sudah turun TKP dalam rangka pengumpulan bahan keterangan,” kata Teguh.

Dari pengecekan sementara ini, Teguh mengaku belum ada temuan kelalaian ataupun unsur pidana lainnya. Ia mengatakan pengerjaan plafon ini masih dalam tanggung jawab kontraktor.

“Pekerjaan masih PHO dan masih dalam pemeliharaan,” ungkapnya. (*)

 

 

 

Reporter : FISKA JUANDA

UPDATE