Kamis, 25 Juli 2024
spot_img

Satu Visi pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Perusahaan di Batam Berkontribusi Hadapi Krisis Iklim Bumi.

Berita Terkait

spot_img

bakau mangrovebatampos – Sebanyak 11 Perusahaan di Kota Batam melakukan aksi penanaman Mangrove (Rhizophora Mucronata), 1.300 batang menambah koleksi flora di Hutan Lindung Sei Beduk, Batam.

Adapun perusahaan tersebut adalah PT Ecogreen Oleochemicals, PT Jasa Raharja Batam, PT Citra Turbindo, PT TJK Power, PT Musim Mas, PT Energi Listrik Batam, PT Panasonic, PT Nusatama Properta Panbil, PT Pertamina Pulau Sambu, dan PT Mitra Energi Batam serta PT Asia Cocoa.

Mengusung tema penyelesaian krisis iklim dengan inovasi dan prinsip keadilan, acara berlangsung meriah. Ratusan peserta hadir memeriahkan puncak perayaan Hari Lingkungan Sedunia. Event ini merupakan akhir dari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam.

Berlokasi di Shelter NGO Akar Bhumi Indonesia di Hutan Lindung Sei Beduk nampak hadir Gakkum KLHK Pos Kepri, KPHL Unit II Batam, BKSDA Wilayah II Batam, Kodim 0316, Bakamla, Lantamal Batam, Polairud Polda Kepri, DAOPS Manggala Agni, Lurah Tanjung Piayu dan 23 Kelompok Peduli Lingkungan (Proklim) Batam binaan Dinas Lingkungan Hidup.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia untuk kali pertama dirayakan pada tahun 1973 dan tradisi ini terus berlanjut dengan gelombang aktivitas lingkungan yang semakin besar di seluruh belahan dunia. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa asbabul nuzul Hari Lingkungan Hidup Sedunia dipicu oleh lahirnya Hari Bumi yang diperingati pada setiap tanggal 22 April.

Asisten Pemerintah Kesra Pemko Batam mewakili Walikota Batam Yusfa Hendri memaparkan bagaimana pemerintah Kota Batam dalam beberapa tahun terakhir telah melakukan penanaman banyak pohon diantaranya Ketapang Kencana dan Jati Emas. Hal ini membuktikan bagaimana dukungan Pemerintah Kota Batam terhadap aktivitas menghadapi perubahan iklim dan demi mendukung lingkungan yang sehat dan baik untuk masyarakat serta kalangan dunia usaha.

Kabid Pengawasan dan Penindakan DLH Kota Batam IP, menyampaikan bahwa upaya penanama Mangrove di Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah guna menambah kuantitas dan kualitas Ekosistem Mangrove di Kota Batam khususnya Hutan Lindung Sei Beduk. DLH Kota Batam sebagai pengagas kegiatan ini juga menerapkan pola penanaman sebagaimana metode rehabilitasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yakni pemeliharaan selama 3 tahun.

“Hal ini dilakukan demi keberlanjutan program rehabilitasi dan Lingkungan,” ujar IP.

SHE Manager PT Ecogreen Oleochemicals, Moh. Andimora Parulian selaku perwakilan pihak sponsor mengatakan, pIhak Industri termasuk PT Ecogreen menyadari sepenuhnya bahwa sebagai bentuk dari tanggung jawab moral Perusahaan, senantiasa aktif ikut andil dalam berbagai kegiatan restorasi lingkungan, salah satu dengan penanaman kembali mangrove.

“Pepatah mengatakan “Bersatu kita Teguh”, kami meyakini bahwa dengan adanya kehadiran dan kepedulian dari rekan-rekan industry lainnya, maka upaya kita dalam melakukan restorasi dan menjaga kelestarian alam di Kota Batam ini akan membuahkan hasil yang baik, ” katanya.

Bukan kali pertama perusahaannya bekerjasama dengan NGO Akar Bhumi Indonesia. Dalam 3 tahun ini kami juga menanam pohon di Hutan Lindung Sei Beduk yang mana Akar Bhumi sebagai pelaksananya. Harapannya bibit pohon yang ditanam ini bisa jadi pohon dan mampu berkontribusi pada lingkungan.

Ketua Akar Bhumi Indonesia Soni Riyanto menghimbau dan mengingatkan bahwa aktivitas lingkungan bukan saja menanam pohon, masalah sampah plastik yang mencemari pantai dan laut juga menyebabkan kerusakan lingkungan. Untuk mengantasipasi hal tersebut maka telah dipasang pagar tanaman di area penanaman Mangrove.

Akar Bhumi Indonesia akan memberikan reporting bulanan tentang kondisi tanaman antara lain, jumlah pohon yang mati, penyisipan pohon penganti, diameter dan tinggi pohon, jumlah daun serta kendala-kendala yang ditemukan. Dalam proses rehabilitasi di Hutan Lindung Sei Beduk.

Founder Akar Bhumi Indonesia Hendrik Hermawan, mengajak semua ppiha untuk bersama-sama melakukan upaya penanggulangan perubahan iklim yang bukan saja telah merugikan banyak pihak namun juga telah secara lansung dan tidak langsung telah merenggut korban jiwa serta mengancam keanekaragaman hayati. “There’s no straight solution to climate change, tidak ada cara singkat untuk menghadapi perubahan iklim perlu mitigasi dan adaptasi serta inovasi, ” ujarnya.

Terselip sederet kalimat terakhir dalam pembacaan puisinya berjudul “ketika teriakan bakau semakin parau”; salah satu kejahatan terhadap lingkungan adalah ketika kita merusaknya, kejahatan lain saat kita tidak mempedulikannya. (*)

 

Reporter : Rengga Yuliandra

spot_img
spot_img

Update