Rabu, 11 Februari 2026

Sekolah Negeri di Hinterland Kurang Peminat

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Perahu motor yang mengangkut pelajar menuju sekolah di wilayah hinterland, melintas di perairan Jembatan Barelang, beberapa waktu lalu. Sejumlah sekolah di hinterland kekurangan siswa.
F. Dokumentasi Batam Pos

batampos – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) yang ada di mainland Kota Batam umumnya kebanjiran peserta didik. Saat proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang baru saja dilewati, belasan ribu tamatan SMP umumnya mendaftar ke SMAN yang ada di mainland Kota Batam.

Berbanding terbalik, SMAN di pulau-pulau terdekat di sekitar Batam ini belum memenuhi kuota daya tampung yang ditetapkan. Padahal, kuota daya tampung yang tertera dari petunjuk teknis (Juknis) PPDB Disdik Kepri, jumlah kuota tidak sampai 100 siswa.

Kekurangan siswa di sekolah hinterland ini sepertinya bisa jadi solusi pemerataan siswa yang membeludak di Batam, sebab sistem PPDB di sekolah-sekolah hinterland diatur dengan sistem kombinasi. Dalam arti, sistem zonasi tidak mengikat dan siswa dari Batam yang berdekatan dengan sekolah-sekolah tersebut bisa ke sana asalkan ada transportasi yang disediakan.


Kepala Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Kepri Cabang Batam, Kasdianto, belum berkomentar banyak terkait ini karena masih menunggu petunjuk lebih lanjut dari Dinas Pendidikan Provinsi Kepri dan juga Gubernur Kepri.

”Untuk saat ini masih seperti yang tertera dalam juknis yang ada. Belum ada petunjuk lan-jutan lagi,” kata Kasdianto.

Sekolah-sekolah tersebut di antaranya SMAN 6 Batam di Pulau Air Raja, Kelurahan Sijantung, Galang, yang kuotanya hanya 36 orang untuk satu rombel; SMAN 7 Batam di Pulau Kasu, Belakangpadang, yang kuotanya hanya 72 siswa untuk dua rombel; SMAN 9 Batam di Sembulang yang hanya dua rombel untuk 72 siswa; SMAN 13 Batam di Pulau Terong, Belakangpadang yang hanya 72 siswa untuk dua rombel; SMAN 11 Batam di Pulau Bulan, ada 72 siswa untuk dua rombel; dan SMAN 22 Pulau Pecung, Belakangpadang satu rombel untuk 36 siswa.

Begitu juga terkait kuota tambahan seperti yang diharapkan para orangtua yang terus mendatangi sejumlah SMK dan SMA Negeri di Batam dalam sepekan terakhir ini juga belum ada petunjuk lebih lanjut. Artinya, sekolah masih tetap sesuai dengan kuota yang tertera dalam juknis sebelumnya.

”Masih fokus untuk semua tahapan proses yang berjalan. Mungkin nanti kalau sudah selesai dengan tahapan PPDB terjadwal ini baru Dinas Pertimbangan permintaan para orang itu,” ujar Kepala SMKN I Batam, Deden Suryana.

Kekurangan siswa baru juga masih terjadi di sekolah swasta di Kota Batam. Seperti, pekan sebelumnya, sekolah swasta di Batuaji dan Sagulung masih kekurangan siswa baru hingga saat ini. Kuota yang terisi baru di angka 70 hingga 80 persen.

”Yang terisi ini ya memang mereka yang dari awal mau ke sekolah swasta. Yang tidak lolos PPDB sekolah negeri ini belum nampak lagi yang mendaftar ke kita,” ujar Kepala Sekolah Yos Sudarso III Batuaji, Marianus Sihotang.

Kekurangan kuota siswa sekolah swasta ini juga karena kebijakan pemerintah yang setiap tahun menambah kuota di setiap sekolah negeri. Kuota sekolah negeri tidak dibatasi betul sehingga swasta sulit bersaing. Pemikiran yang bekembang di masyarakat bahwa masuk sekolah swasta akan menguras isi dompet, akan semakin melekat jika tidak didukung oleh pemerintah atas keberadaan sekolah-sekolah swasta ini.

”Padahal kita ini mitra pemerintah. Kalau ada dukungan tentu swasta tidak seberat yang dipikirkan orangtua. Ada kebijakan-kebijakan tentunya kalau ada dukungan dari pemerintah. Sekarang pun ada banyak kok sekolah swasta yang memberikan kebijakan keringanan SPP kepada mereka yang kurang mampu,” ujar Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kota Batam Muhammad Raihan.

Menurutnya, hal itu haru diperhatikan betul oleh pemerintah. ”Kalau ditata dengan baik, swasta digandeng, tentu ada solusi atas keluhan mahalnya biaya pendidikan di sekolah swasta,” katanya. (*)

 

Reporter : Eusebius Sara

Update