
batampos– Melda, ibu guru SMPN 23 Galang yang sempat kritis terkena tembakan gas air mata, saat kerusuhan terjadi antara aparat kepolisian dan masyarakat Galang yang melakukan pemblokiran jalan terkait konflik lahan pengembangan kawasan ekonomi baru di Rempang Cate dan Sembulang, Kamis (8/9) sudah kembali pulih.
Dia dan sepuluh siswa nya hanya mendapat perawatan medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Embung Fatimah karena kondisi mereka semua kembali pulih setelah mendapat pemenangan medis.
“Tidak ada yang diinapkan. Ibu guru (Melda) juga sudah langsung pulang semalam (Jumat malam). Memang agak lemas tapi sudah membaik, ” ujar Humas RSUD Embung Fatimah Elin Sumarni, Jumat (8/9).
BACA JUGA: Situasi Kawasan Rempang Kondusif, BP Batam Apresiasi Sikap Kooperatif Masyarakat
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Batam, Rudi Panjaitan sebelumnya menuturkan penanganan korban kerusuhan di Galang tidak dipungut biaya. Pemerintahan bertanggungjawab atas kejadian tersebut dan tidak ada korban yang mengalami luka ataupun penanganan medis yang serius.
“Hanya rawat jalan saja mereka, ” kata Rudi.
Sementara informasi yang berkembang di lapangan, paska kerusuhan tersebut, masyarakat di pulau Galang dan sekitarnya masih bersiaga satu di berbagai titik kampung tua. Mereka tetap menolak pengukuran lahan perkampungan mereka untuk rencana pengembangan kawasan ekonomi baru di pulau Galang.
“Masih jaga, tetap kami pantau. Kami tetap tak mau ada aktifitas apapun sebelum ada kepastian terkait nasib kampung kami. Pengukuran juga tak boleh, ” ujar Iwan, seorang warga.
Kuatir Tak Bisa Melaut Lagi
Masyarakat kampung tua di kelurahan Sembulang dan Rempang Cate tetap bersikeras agar kampung mereka tidak digusur untuk kepentingan pengembangan kawasan ekonomi baru yang dicanangkan pemerintah. Ada banyak alasan yang disampaikan. Selain soal tanah atau kampung yang sudah mereka tempati secara turun temurun, masyarakat di sana juga kuatir wilayah laut yang selama ini mereka mengais rejeki tak bisa digunakan lagi jika sudah dikembangkan oleh investor.
“Itu ibarat ladang kami. Kami ini nelayan. Nanti kalau sudah masuk investor kami dilarang masuk lagi ke lokasi yang sudah biasa kami cari ikan dengan berbagai alasan nantinya. Ini juga yang harus dipikirkan, ” ujar Ummar, warga Sembulang.
Alasan-alasan inilah yang menjadi dasar masyarakat di sana menolak relokasi serta rancangan dan fasilitas yang ditawarkan pemerintah tadi. Mereka bersisi kukuh agar pengembangan kawasan ekonomi baru ini tidak menggeser kampung mereka dan biarkan mereka berdampingan dengan kawasan yang dikembangkan tersebut. (*)
reporter: eusebius sara

