
batampos – Hingga Agustus 2025, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batam telah memulangkan 47 orang terlantar ke daerah asal masing-masing.
Plt Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Batam, Adi Harnus, menjelaskan proses pemulangan dilakukan melalui tahapan verifikasi terlebih dahulu. “Sebelum dipulangkan, kami pastikan dulu kondisi mereka benar-benar terlantar. Setelah itu baru ditentukan mekanisme pemulangan sesuai daerah asal,” ujarnya, Senin (25/8).
Adi menyebut, sebagian besar orang terlantar yang dipulangkan tahun ini berasal dari Jawa Barat, Medan, dan Jawa Timur. Mereka biasanya ditemukan tidur di jalan, pelabuhan, hingga fasilitas publik, atau diserahkan langsung oleh pihak kepolisian, RT, maupun warga ke shelter Dinsos.
“Contohnya, ada pekerja dari Jawa Barat yang ditipu mandor, itu juga kami bantu pulangkan ke daerah asalnya,” kata Adi.
Untuk teknis pemulangan, mereka yang berasal dari Sumatera Utara diberangkatkan menggunakan kapal Kelud menuju Medan. Sementara yang menuju wilayah Jawa dipulangkan lewat jalur laut ke Jakarta, lalu diteruskan ke daerah masing-masing, seperti Semarang atau Surabaya.
“Proses pemulangan tidak bisa setiap hari. Biasanya mereka menunggu di shelter hingga jumlah mencukupi, baru diberangkatkan bersama-sama,” jelasnya.
Namun, Adi mengakui penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) terlantar menjadi kendala tersendiri. Sebab, sebagian tidak memiliki keluarga maupun identitas yang jelas, sehingga menyulitkan proses pemulangan.
“Kalau ODGJ tanpa keluarga, memang lebih sulit. Tidak bisa asal pulangkan tanpa kepastian,” ujarnya.
Selain pemulangan ke luar Batam, Dinsos juga menangani penjangkauan anak jalanan, pengamen, pengemis, dan gelandangan. Hingga Agustus 2025, tercatat 352 penjangkauan dilakukan. Dari jumlah itu, sebagian dipulangkan ke keluarga, ada yang dititipkan ke panti asuhan, dan sisanya ditampung sementara di Shelter Nilam Suri.
“Yang jelas, setiap tahun anggaran pemulangan ini tidak pernah sisa, bahkan cenderung ditambah. Itu menunjukkan kebutuhan penanganan orang terlantar di Batam terus meningkat,” tutup Adi. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



