Kamis, 15 Januari 2026

Sertifikasi Guru Masih Jadi Tantangan di Batam, Masih Banyak Guru di Batam Belum Miliki Sertifikasi Pendidik

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam Tri Wahyu Rubianto. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos.

batampos – Banyak guru di Batam masih belum memiliki sertifikasi pendidik (serdik), sebuah status yang menjadi syarat utama untuk diakui sebagai tenaga pendidik profesional. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Tri Wahyu Rubianto, menyebutkan bahwa hingga saat ini, terdapat sekitar 1.500 guru di Batam yang telah memiliki sertifikasi. Namun, jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan.

Menurut Tri Wahyu, sertifikasi pendidik penting untuk memastikan mutu pendidikan di Batam. Selain itu, sertifikasi juga berdampak langsung pada kesejahteraan guru.

“Bagi guru yang sudah bersertifikasi, baik ASN maupun non-ASN, mereka berhak mendapatkan tunjangan tambahan. ASN menerima tunjangan setara satu bulan gaji pokok, sedangkan guru non-ASN mendapatkan sekitar Rp2 juta. Namun, bagi yang belum bersertifikasi, tunjangan yang diterima hanya setengahnya,” ujarnya, Senin (9/12).

Selain itu, ia mengingatkan bahwa ke depan, guru yang tidak memiliki sertifikat pendidikan tidak akan diizinkan untuk mengajar. Oleh karena itu, Dinas Pendidikan akan melakukan pendataan ulang pada tahun depan untuk memastikan lebih banyak guru dapat mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG).

“Proses sertifikasi memakan waktu sekitar enam bulan. Setelah lulus, barulah mereka dianggap profesional. Ini juga menjadi upaya meningkatkan kompetensi tenaga pendidik,” tambahnya.

Namun, tantangan lain muncul dari keterbatasan kuota sertifikasi yang hanya tersedia untuk sekitar 300 guru per tahun. Sementara itu, kebutuhan tenaga pendidik di Batam masih sangat besar, mencapai hampir 700 guru untuk jenjang SD dan SMP.

“Kami sudah tidak lagi merekrut guru honorer, sehingga kebutuhan guru sepenuhnya bergantung pada pemerintah pusat melalui seleksi PPPK,” kata Tri Wahyu.

Ia menekankan pentingnya mendorong lebih banyak guru untuk mengikuti sertifikasi, meskipun prosesnya memakan waktu dan kuota terbatas.

“Setiap guru memiliki kesempatan, dan kami terus mendorong agar mereka mengikuti program ini,” tutupnya. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update