
batampos – Dalam dua bulan terakhir, tercatat 10 ribu kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan di Batam mengalami status tidak aktif. Hingga akhir Juni 2025, total peserta tidak aktif di kota industri ini mencapai 76 ribu orang. Sebagian besar berasal dari sektor swasta dan disebabkan oleh PHK.
Kondisi ini tidak hanya terjadi di Batam, namun juga menunjukkan tren serupa di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena ini mengindikasikan adanya peningkatan angka PHK secara nasional dalam beberapa bulan terakhir.
Meski data BPJS menunjukkan tren peningkatan peserta tidak aktif, pelaku usaha di Batam tetap optimistis bahwa kota ini masih memiliki daya tahan ekonomi dan potensi pertumbuhan lapangan kerja ke depan.
Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, menyebut situasi ketenagakerjaan di Batam masih dalam kondisi stabil. Belum ada indikasi pengurangan tenaga kerja secara signifikan di daerah ini.
“Sepertinya belum ada (pengurangan tenaga kerja). Jadi pengurangan tenaga kerja signifikan belum kelihatan untuk Batam. Sekarang ini masih normal untuk tenaga kerja di Batam,” katanya, Kamis (17/7).
Ia menyebut, dalam kondisi normal, perusahaan bisa saja melakukan PHK sebagai bagian dari efisiensi. Namun hingga saat ini, pihaknya belum menerima laporan resmi dari perusahaan-perusahaan di Batam terkait pengurangan tenaga kerja.
“Biasanya kalau PHK karena efisiensi, tapi sebenarnya belum ada terjadi PHK di perusahaan-perusahaan Batam. Belum ada juga laporan dari perusahaan soal pengurangan tenaga kerja,” ujarnya.
Terkait situasi global, Rafki menyebut faktor eksternal seperti tarif bea masuk Amerika Serikat atau yang dikenal sebagai tarif Trump bisa menjadi tantangan ke depan. Namun begitu, saat ini Indonesia justru diuntungkan karena tarif tersebut sedang diturunkan.
“Tarif Trump itu sekarang diturunkan untuk Indonesia, ya ini kesempatan dan momentum bagi Batam untuk mencari investasi, terutama dari negara-negara tetangga yang tarifnya lebih tinggi dari pada kita,” kata Rafki.
Menurutnya, kondisi ini bisa menjadi peluang bagi Batam untuk menarik lebih banyak investasi asing, khususnya dari negara-negara seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand yang kini menghadapi tarif ekspor lebih tinggi ke Amerika Serikat dibandingkan Indonesia.
“Mudah-mudahan tahun depan, kalau memang tarif ini tak berubah lagi, ini cukup menguntungkan buat investasi Batam karena perusahaan-perusahaan yang ada di Malaysia, Vietnam, ataupun Thailand akan melirik Indonesia,” kata dia. (*)
Reporter: Arjuna



