
Upaya Badan Pengusahaan Batam mengembangkan Pelabuhan Batuampar sejak dulu kerap menemui hambatan besar. Berbagai kalangan menuding Singapura sebagai penghalangnya, karena tak ingin punya pesaing. Benarkah seperti itu?
Reporter: EGGI IDRIANSYAH
KENAPA Pelabuhan Batuampar sulit dikembangkan? Sejak 30 tahun lalu, kondisi sarana bongkar muat barang jalur laut terbesar di Batam itu begitu-begitu saja. Wajahnya kusam dan suram.
Padahal dengan menyandang status sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas (free trade zone/FTZ) dan pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia bagian barat, semestinya Batam memiliki pelabuhan yang representatif, yang bisa dibanggakan sebagai etalase Indonesia ke sejumlah negara yang terhubung dengannya.
Terhampar di lokasi yang strategis: di jalur emas perdagangan dunia bernama Selat Melaka, sayangnya, Batuampar tak kunjung berubah. Sebegitu sulitkah menyulapnya menjadi pelabuhan berskala besar?
Ada banyak alasan dikemukakan, tapi satu yang sampai saat ini diyakini oleh sebagian besar orang-orang pemerintahan dan pelaku usaha di Batam: Singapura tak rela Batam punya pelabuhan hebat. Jika Batuampar dibiarkan besar, akan jadi pesaing utama Pelabuhan Singapura, yang sampai hari ini merupakan salah satu tambang uang negeri jiran itu.
Kapasitas Pelabuhan Batuampar saat ini adalah sekitar 600 ribu TEUs kontainer. Sedangkan kapasitas Pelabuhan Singapura mencapai 47 juta TEUs kontainer. Bak langit dan bumi.
Daniel Burhanuddin, seorang pelaku usaha bidang logistik senior di Batam mengemukakan pandangannya tentang itu. Pemilik PT Esqarada itu mengatakan, tujuan dibangunnya Batam adalah sebagai kawasan alih kapal atau transhipment.
Artinya, kapal-kapal pengangkut barang tujuan ekspor dari berbagai daerah di Indonesia memindahkan muatan mereka ke kapal yang lebih besar di pelabuhan Batam untuk diteruskan ke negara tujuan. Begitu pula sebaliknya, kapal-kapal dari luar negeri tujuan berbagai daerah di Indonesia melakukan alih muatan di pelabuhan Batam.
“Jika tujuan sebagai transhipment itu berhasil, tentunya yang dirugikan adalah Singapura,” ujar Daniel yang juga menjabat Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam.
Ia menceritakan, pada masa kepemimpinan (alm) BJ Habibie di Otorita Batam (kini Badan Pengusahaan Batam), perusahaan ekspedisi besar asal Taiwan, Evergreen, bersedia menjadikan Batam sebagai pusat kontainernya. Namun, rencana itu langsung dijegal Singapura dan Evergreen batal masuk ke Batam.
“Saya tidak percaya iktikad baik Singapura dalam upaya menurunkan tarif kontainer ini. Kita sudah ada pengalaman dikerjainnya (batalnya Evergreen masuk Batam), kok masih percaya,” katanya.
Selain soal pelabuhan, bisnis jasa angkutan laut Batam-Singapura juga diwarnai tingginya tarif angkut kontainer dari kedua wilayah. Tarif angkut Batam-Singapura untuk kontainer ukuran 20 feet mencapai 500 dolar AS.
Sebagai perbandingan, untuk mengangkut kontainer dengan ukuran yang sama dari Jepang atau Korea ke Singapura, biayanya hanya 200 dolar AS. Padahal, jarak Batam-Singapura hanya 20 kilometer.
Daniel menjelaskan, ia sangat merasakan dampak mahalnya tarif kontainer ini. Karena itu, ia menekankan perjuangan dalam menurunkan tarif kontainer ini harus konsisten.
“Semuanya adalah ulah orang Singapura. Semua ulah forwarder Singapura,” tegasnya.
Menurut dia, satu-satunya cara menurunkan tarif kontainer adalah mengubah skema pengangkutan dari door to door menjadi door to port. Ia menambahkan, sejak Singapura menerapkan skema door to door ini, tarif melonjak dari 40 dolar AS menjadi 70 dolar AS. “Makanya, kalau menurut saya, paling gampang itu menyelesaikannya, ubah sistem door to door menjadi door to port,” kata dia.
Pada awal 2020 lalu, PT Pelindo II, perusahaan pengelola pelabuhan milik negara, berencana masuk sebagai pengelola Batuampar. Mereka meneken kesepakatan dengan BP Batam. Saat penandatanganan kerja sama, Direktur Utama Pelindo II saat itu, Elvyn G. Masassya, mengatakan tujuan mereka masuk ke Batuampar adalah untuk meruntuhkan hegemoni Singapura di sekitar Selat Melaka.
“Ini soal nasionalisme. Agar Indonesia tidak dilecehkan Singapura, dan ini penugasan pemerintah,” ujar Elvyn.
Elvyn mengungkapkan, “kue” yang selama ini seharusnya dinikmati Batam malah diambil alih pelabuhan-pelabuhan di Malaysia dan Singapura.
Raibnya kue yang seharusnya dinikmati Batam tersebut disebabkan infrastruktur pelabuhan Batam yang berada jauh di bawah standar internasional.
Karena tidak memiliki infrastruktur yang mumpuni, maka produk manufaktur Batam yang berorientasi ekspor, tidak bisa diantar langsung dari Batam menuju negara tujuan.
Alasannya, kapal-kapal besar sekelas Panamax tidak bisa bersandar di Batuampar.
Untuk bisa menuju negara tujuan ekspor, barang-barang ekspor tersebut harus dimuat dalam kapal-kapal tongkang kecil menuju Johor, Malaysia. Ketika tiba di Johor, maka akan diantar lagi pakai truk ke pelabuhan bongkar muat di Jurong, Singapura.
Baru setelah itu menuju negara tujuan ekspor menggunakan kapal yang lebih besar. Dalam prosesnya, Elvyn menyebutnya bisa sampai triple handling atau pengangkutan berulang kali. “Proses seperti ini menimbulkan biaya logistik yang mahal,” ujarnya.
Tapi, benarkah itu semua ulah Singapura?
Menteri Luar Negeri Kedua Singapura, Mohamad Maliki Osman, membantah negaranya menghalang-halangi pengembangan Batuampar. “Kami sungguh terkejut dengan isu tersebut. Itu sangat tidak benar,” ujar Osman menjawab pertanyaan Batam Pos di Hotel Marriott Batam, Jumat (19/8).
Menurut Maliki, Singapura justru sangat berkeinginan Batam menjadi wilayah yang maju, termasuk di sektor kepelabuhanan. “Kalau sekarang Pelabuhan Batuampar tampak belum maju, mungkin karena banyak peralatan kerja di sana masih bersifat manual, belum menggunakan mesin otomatis,” katanya.
Ia menyebutkan, salah satu bukti dukungan Singapura atas pengembangan Pelabuhan Batuampar adalah dengan disepakatinya kerja sama antara Badan Usaha Pengelola Pelabuhan Batuampar dengan Port of Singapore Authority (PSA). “Kami mendukung rencana modernisasi Pelabuhan Batuampar yang dikembangkan kepala BP Batam,” katanya.
Maliki mengatakan, selain mendukung kemajuan Batam, Singapura juga siap memberikan bantuan yang diperlukan. “Jadi, isu itu tidak benar. Tolong beritahukan kepada semua yang mempercayai isu itu bahwa itu tidak benar,” ucap Maliki.
Ia menyebutkan, salah satu alasan kenapa Singapura ingin Batam maju adalah karena banyaknya perusahaan Singapura yang berinvestasi di Batam. “Kalau pelabuhan tidak maju, juga akan berdampak pada perusahaan-perusahaan dari Singapura, mereka akan sulit mengurus keluar masuk barang,” katanya.
Karena itu, kata dia, tidak benar Singapura menghalangi kemajuan Batam di sektor kepelabuhanan. “Kami justru ingin Batam berjaya. Jika Batam sukses kami senang dan bahagia,” ujarnya. (*)



