Selasa, 17 Februari 2026

Sirajudin Nur: Rasa Persaudaraan Terkikis, Banyak Warga Tak Mengenal Tetangganya

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kepri Sirajudin Nur memberikan wejangan kepada ratusan warga perumahan Mutiara Hijau dan Grand Mansang Piayu soal rasa persaudaraan antar warga, Sabtu (2/9) malam. Foto Tim Sirajudin Nur untuk Batam Pos.

batampos – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Kepri Sirajudin Nur menghadiri undangan malam penutupan puncak peringatan HUT ke-78 Kemerdekaan RI yang bertempat di fasum Perumahan Mutiara Hijau dan Grand Mangsang Seibeduk, Minggu (3/9) malam.

Selain bersilaturahmi dengan ratusan warga Perumahan Mutiara Hijau dan Grand Mangsang yang hadir, kedatangan anggota DPRD Kepri yang sudah menjabat selama dua periode berturut-turut periode 2014-2019, serta 2019-2024 dari Dapil Bengkong, Batuampar, Batamkota dan Lubukbaja ini juga didapuk untuk memberikan wejangan di hadapan ratusan warga di dua perumahan, tentang pesan-pesan apa itu arti kemerdekaan untuk kehidupan saat ini.

Menurut pria kelahiran 11 Juni 1973 ini berasal dari keluarga sederhana dan agamis ini, arti kemerdekaan sesungguhnya dilahirkan dari adanya rasa dan semangat persaudaraan dan persatuan, saling mengenal satu sama lain.


“Namun yang terjadi saat ini di lingkungan masyarakat, utamanya masyarakat yang tinggal di perkotaan, yang sering meneriakkan jargon merdeka, nyatanya dengan tetangga dekat rumah pun, ternyata rata-rata tak kenal siapa nama tetangga sebenarnya. Tahunya hanya nama panggilan anak tetangga saja, tapi ngakunya bersaudara. Ini ironis sekali. Untuk itu, sikap tak saling mengenal tetangga dekat harus diubah,” ujarnya.

Untuk membuktikan bahwa saat ini banyak warga yang tak kenal dengan tetangga dekatnya, Sirajudin sengaja membuat kuis kepada warga yang hadir di puncak peringatan HUT Kemerdekaan RI. Kuis tersebut meminta warga untuk menyebut lima nama asli tetangganya, bukan nama panggilan anak tetangganya.

Dari hal tersebut, didapati masih banyak warga di Batam yang tak mengenal nama tetangga dekatnya. “Saya akan mengetes, apakah warga Grand Mangsang dan Mutiara Hijau, apakah benar antar warganya saling kenal, bahkan saling bersaudara, atau bahkan dengan tetangga dekatnya tak mengenal namanya,” terangnya.

Di era serba digital saat ini, diakui Sirajudin Nur, tipis sekali masyarakat Batam untuk bertetangga, berinteraksi dengan tetangga terdekat, bahkan menjalin persaudaraan.

“Saya membuktikan sendiri tiap turun ke masyarakat, duduk bersebelahan, bertetangga pula, namun kalau ditanya siapa nama orang sebelahnya, siapa nama tetangganya, mereka tak saling mengenal, bahkan lebih memilih asyik memainkan ponselnya tanpa bertegur sapa ataupun berinteraksi. Ini kan miris sekali. Ngakunya sudah merdeka dilandasi semangat persaudaraan dan persatuan, nyatanya duduk bersebelahan, tak saling kenal, bahkan tak bertegur sapa. Itu yang tak boleh,” tegasnya.

Sebab, lanjut Sirajudin, kalau antar tetangga saling bertegur sapa, berinteraksi, bahkan menjalin persaudaraan, manfaat yang didapat keduanya sangat besar dan positif. “Semisal kalau kita mau pergi keluar kota, kalau hubungan dengan para tetangga dekat rumah berjalan baik seperti saudara, maka tak akan was-was meninggalkan rumah. Karena adanya rasa persaudaraan itulah untuk sama-sama ikut menjaga yang membuat tak was-was warga meninggalkan rumahnya sementara,” terangnya.

Kalau ternyata masih banyak warga yang tak saling kenal antar tetangga, tidak tegur sapa, Sirajudin menjelaskan, bagaimana negara mau kuat. Selain itu, Sirajudin juga meminta warga tak meninggalkan sejarah, salah satu implementasinya, dengan mengenal jasa dan nama para pahlawan.

Sirajudin juga menjelaskan bahwa makna yang dimaksud pahlawan itu, tak hanya mereka yang angkat senjata saja, namun pahlawan itu maknanya lebih luas.

“Pahlawan bukan hanya yang fotonya di pajang di dinding sekolah saja. Orang Tua yang sudah menafkahi kita, menghidupi, menyekolahkan dan menjaga anak-anaknya supaya tetap bisa beraktivitas tanpa kekurangan, itulah pahlawan sesungguhnya di kehidupan nyata saat ini,” ujarnya.

Sirajudin Nur sendiri dikenal sudah berkecimpung menggeluti dunia politik sejak 2006 di bawah naungan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Hal itulah yang membentuk sosok Sirajuddin Nur tumbuh menjadi sosok yang ramah dan bersahaja, dekat dengan masyarakat, hingga dijuluki salah satu anggota DPRD Provinsi Kepri yang namanya populer di masyarakat Batam maupun Kepri.

Sirajuddin Nur dikenal oleh rekan-rekanya di legislatif sebagai sosok yang mumpuni di bidang perencanaan pembangunan dan kebijakan publik.

Tak itu saja. Sirajudin Nur juga dikenal sangat aktif di kegiatan luar lainnya seperti misalnya dalam pelestarian budaya. Bahkan ia sudah mampu menelurkan sebuah karya yang cukup populer, semilsa Festival Kepri Berkompang yang pernah kegiatannya diikuti oleh peserta dari manca negara seperti Singapura dan Malaysia. Berikutnya lomba Perahu Jong yang hampir tiap tahun selalu ia gelar demi satu tujuan, agar budaya Melayu tetap eksis, tidak tenggelam ditelan jaman.

Reporter: GALIH ADI SAPUTRO

Update