Jumat, 3 April 2026

Soal SMK Dirgantara, Ini Penjelasan Erwin

spot_img

Berita Terkait

spot_img
KPAI bersama Kemendibud, Inspektorat Kepri, Dinas Pendidikan Kepri meninjau Sekolah Penerbangan
Nasional Dirgantara (SPND) di Batam Center, Rabu (17/11). F.Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Pembina sekaligus penanggungjawab SMK Penerbangan Nasional Dirgantara (SPND) Batam, Erwin Depari mengatakan, 10 siswa yang dikeluarkan dari sekolah itu sudah sejak dua bulan yang lalu. Bahkan, beberapa orang sudah keluar dari sekolah setahun yang lalu. “Pada prinsipnya yang kita keluarkan itu, pasti yang sudah bermasalah berat dan tak tertangani,” ujarnya, Kamis (18/11).

Ia merincikan, dari 10 mantan siswa SPND yang dikeluarkan, 2 siswa sudah dikeluarkan sejak lama dan 8 siswa yang baru dikeluarkan dalam beberapa bulan ini. Dimana, dari 8 siswa yang baru dikeluarkan itu, 4 siswa dikeluarkan karena masalah narkoba dan merokok.

BACA JUGA: Kekerasan di Sekolah Penerbangan Terjadi Lagi

Ia mengungkapkan, sekolah sudah melakukan pembinaan kepada anak yang tersangkut narkoba itu. Namun, karena tidak bisa dibina, akhirnya sekolah mengambil tindakan untuk mengeluarkan siswa tersebut.

Selain itu, 2 anak juga terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena permasalahan perkelahian dan orang tua tidak terima dengan menuduh sekolah membiarkan anaknya berkelahi. Sehingga dikeluarkan dari sekolah atas kemauan orang tua siswa.

Dari 10 yang dikeluarkan itu ada beberapa yang dikeluarkan dengan surat yang lengkap. Namun Erwin tak menampik ada beberapa anak yang dapodik nya tidak dikeluarkan karena belum membayar uang sekolah.

“Kita sudah koordinasi dengan orang dinas. Dan orang dinas juga sudah bilang, kalau masalah dapodik nya tidak dikeluarkan karena hutangnya masih ada, itu tidak masalah,” katanya.

Dapodik itu, kata Erwin bisa menyusul. Sebab, untuk siswa yang pindah sekolah, yang terpenting surat pindah dan lainnya sudah dikeluarkan. Sehingga siswa itu masih bisa melanjutkan sekolah.

Pihaknya telah menemui beberapa orang tua yang bermasalah dengan dapodik dan sudah diberikan penjelasan. Namun, kata Erwin, karena orang tua sudah tidak suka dengan sekolah, sehingga orang tua siswa menjelek-jelekkan sekolah.

Sementara, terkait dengan temuan KPAI dan pihak terkait dengan adanya ruangan seperti penjara, Erwin menegaskan bahwa ruangan itu merupakan ruang konseling yang juga dilengkapi dengan pendingin ruangan atau AC.

“Ditanya kenapa panas dan pengap. Itu AC nya tidak dihidupkan. Bahkan ada tempat tidur. Sebenarnya sudah layak,” katanya. Adanya penilaian tidak layak itu, jelasnya, bermula dari pengawas SMA sederajat dari Dinas Pendidikan Provinsi Kepri saat program pendidikan diksar di hutan. Dimana, diksar itu itu bertujuan untuk pembetukan di lapangan.

“Jadi ada masalah yang merokok dan lari itu, karena lima orang dan kami semua kegiatan diluar dan tidur di hutan, jadi ditarok lah lima itu di kamar dalam pengawasan. Kemudian, disitulah orang dinas datang dan difoto,” jelasnya.

Foto tersebut awalnya dari pengawas Dinas Pendidikan menyatakan kalau foto itu hanya sebagai dokumentasi mereka. Namun ia tak menyangka jika foto itu tersebar sampai KPAI. Lima anak yang merokok dan kabur itu hanya satu hari.

“Bukan kita kekurangan asrama. Tapi karena situasi dan kondisi. Tapi kalau dicari kesalahan ada saja. Di 2018 juga, dibilang penjara padahal konseling,” tuturnya.

Ia melanjutkan, seluruh kurikulum, materi, kedinasan hingga surat-surat di SPND Batam jelas semua. Sehingga Inspektorat Jendral Kemendikbud mengatakan bahwa permasalahan tersebut bukan permasalahan mereka.”Terus memang anak itu masalah narkoba dan orang tuanya juga tidak mau lanjut. Kalau mau narkobanya kami tunjukkan,” katanya.

Ia melanjutkan, beberapa bulan yang lalu pihaknya juga mendapatkan siswa yang menggunakan narkoba. Siswa tersebut sudah dikeluarkan dan saat ini sudah melanjutkan pendidikannya di sekolah agama.

“Itu waktu dia narkoba dia lari malamnya. Besoknya dapat di rumah orang tuanya. Setelah dapat kami bawa pulang, karena yang dimarahi penjaga kok bisa lari, datang yang jaga, ada rantai bekas kegiatan di hutan. Kemudian dirantainya dan ditakutinya rantai ke leher,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, maksud merantai leher siswa itu hanya untuk menakut-nakuti siswa yang bermalah itu. Namun, kejadian itu difoto hingga berkembang dan sampai ke tangan KPPAD.

“Memang kalau dilihat seram sekali. Saya lihatnya takut. Tapi sudah kita kroscek,” katanya.

Ia kembali mengungkapkan, tujuan semua adalah pendidikan. Dirinya mengaku paham dengan aturan yang berlaku dan mengambil tindakan masih dalam batasan. Tujuannya tak lain agar anak terbentuk baik mental maupun fisik.

“Kesalahan pidana jauh lah. Kalau kesalahan masih torelansi tidak akan terlalu keras. Dan poin dari permasalahan orang tua tau. Ada SOP kita tunjukkan waktu masuk dan tanda tangan fakta integritas dengan tanda tangan orang tua diatas materai,” tuturnya.

Terkait dengan ruangan penjara, ia kembali menegaskan jika ruangan tersebut merupakan ruang konseling. Ia mengungkapkan, SPND menerapkan asrama sehingga permasalahan berat seperti mencuri, narkoba dan lainnya dilakukan konseling dalam ruangan.

“Tidak mungkin kita masukkan di asrama dengan yang lain. Kalau nanti dia, masuk narkoba ke yang lain, bisa repot kita. Jadi ada ruang khusus yang kita buat,” jelasnya.

Ia menambahkan, ruangan konseling itu bertujuan sebagai proses pembentukan jiwa anak. Di SPND kata Erwin, ada guru Bimbingan Konseling (BK) yang setiap pagi melakukan pembimbingan konseling.

Setelah itu, siswa yang melakukan pelanggaran akan dihukum dengan guling, push up dan lainnya di lapangan. Setelah menjalani itu, siswa akan kembali mengikuti pembelajaran.

“Atau nanti habis konseling belajar dulu. Nanti pas mau masuk barak baru kegiatan lapangan. Itu sudah biasa kami lakukan. Cuma karena anak sudah tidak nyaman dan mau keluar. Dia jadi bilang yang aneh-aneh,” bebernya.

Pendidikan dasar dengan melaksanakan push up sebanyak 100 kali, sudah biasa. Namun karena anak sudah ada masalah, push up 30 kali sudah terasa berat.

“Padahal pembentukan fisik, tangan dan otot. Apalagi ada salah. Membuat keterangan berbeda itu sangat gampang. Apakah itu latihan atau disiksa,” katanya.

Ia menambahkan, pada prinsipnya SPND Batam sudah banyak mencetak siswa terbaik yang sudah bekerja di beberapa instansi yang tersebar di sejumlah kota.

“Output nya kita bagus. Saya dapat sms juga dari orang tua. 10 tak suka, tapi 130 suka. Kita juga sudah tamatkan 263. Di luar mereka semua tidak ada masalah dan boleh dibilang masih posisi lebih baik dari output yang lain,” imbuhnya. (*)

Reporter : Eggi Idriansyah

 

UPDATE