
batampos – Warga di sejumlah titik di Tanjungsengkuang, Batuampar, kembali mengalami krisis air bersih. Di kawasan Sengkuang Dalam, air bahkan tidak mengalir sama sekali selama tiga pekan terakhir. Setiap hari, warga hanya mengandalkan suplai air bersih dari tangki yang dikirim menggunakan lori, tapi jumlahnya terbatas dan tak mencukupi seluruh kebutuhan harian.
Yang membuat warga semakin cemas, aliran air ini disebut-sebut baru akan pulih pada Desember mendatang. Informasi itu beredar di tengah minimnya kepastian dari pihak konsorsium, yang membuat banyak warga bersiap menghadapi masa paceklik air yang berkepanjangan.
Menanggapi hal ini, Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menjelaskan masalah utama terletak pada kondisi elevasi tanah di wilayah Tanjungsengkuang.
“Kami harus memasang jaringan baru serta menambah tekanan valve. Tapi kalau tekanannya ditambah, bisa berdampak ke daerah lainnya juga,” ujar dia, Kamis (24/7).
Sebagai upaya darurat, tim teknis BP Batam tengah melakukan rekayasa tekanan air untuk wilayah Tanjungsengkuang, Nagoya, dan sekitarnya. Uji coba dilakukan pada malam hari untuk meminimalkan gangguan ke pelanggan di area lain.
“Untuk sementara, kami kirimkan truk tangki secara rutin,” kata Tuty.
Krisis air tidak hanya terjadi di Tanjungsengkuang, melainkan ada total 18 titik rawan air atau stress area di Batam. Wilayah-wilayah prioritas saat ini termasuk Kampung Ponjen dan Patam yang disebut telah puluhan tahun kesulitan air bersih. Menurutnya, lambatnya penanganan sebagian disebabkan keterbatasan anggaran.
“Ini semua kan pakai anggaran. Kemarin kita kena efisiensi. Tapi awal Juli anggarannya sudah dibuka, jadi sekarang sudah bisa kita ajukan pengerjaannya,” katanya.
Tuty memastikan pihaknya tidak tinggal diam. Ia menyebut tim sudah turun langsung ke lapangan, termasuk ke kawasan Batu Merah, untuk mengecek kondisi aktual di lapangan sebagai dasar penanganan teknis berikutnya.
“Pasti kita selesaikan. Tapi memang perlu waktu dan tahap-tahap teknis. Kami minta masyarakat sabar, dan tetap koordinasi dengan RT/RW agar distribusi air tangki bisa merata,” ujarnya.
Kondisi ini menambah daftar panjang permasalahan air bersih di Batam, yang kerap kambuh di kawasan berbukit dan berpenduduk padat. (*)
Reporter: Arjuna



