
batampos – Surat rekomendasi Bahan Bakar Minyak (BBM) solar dinilai rawan disalahgunakan.
Pengalokasian surat rekomendasi pengambilan BBM subsidi menggunakan wadah untuk kepentingan pertanian dan nelayan dipertanyakan masyarakat.
Selama ini tidak ada pengawasan sama sekali dengan surat rekomendasi tersebut, sehingga disebut-sebut sebagai biang terjadinya krisis BBM di lapangan.
Pemegang surat rekomendasi yang seharusnya dibatasi jumlah pembelian kuota BBM tidak ada pengecekan sama sekali sehingga bisa saja surat yang sama digunakan berulang-ulang kali demi keuntungan yang lebih.
Baca Juga: Masa Libur Habis, Turis Singapura Kembali
Pihak SPBU tentu tidak bisa menolak, sebab itu menguntungkan mereka karena permainan seperti ini tentu ada kelebihan pembayarannya.
“Satu surat rekomendasi itu dibatasi misalkan 500 liter dalam sebulan. Nah pertanyaannya, siapa yang awasi kalau betul kuota yang diberikan benar 500 lite dalam sebulan. Praktek selama ini satu pemegang surat rekomendasi bisa berulang kali ambil dengan jumlah kuota yang sama,” ujar Jhoni, sopir kendaraan solar yang kesal dengan kelangkaan BBM solar yang kerap terjadi di Batuaji dan Sagulung.
“Orang SPBU tidak mungkin nolak karena ada lebihnya buat mereka. Inilah biang kelangkaan BBM selama ini,” katanya lagi.
Baca Juga: Titik Jalan Rusak di Batam Semakin Banyak
Alih-alih untuk nelayan ataupun pertanian, pemegang surat rekomendasi bisa menguras solar ataupun premium di SPBU untuk dijual ke penampungan ataupun penjual BBM eceran di pinggir jalan.
Solar yang dibatasi pembeliannya dengan kartu kendali BBM saja saat ini masih terlihat bebas dijual secara eceran di lapangan.
Baca Juga: Air Tak Mengalir Berhari-hari, Ombudsman: Hak Konsumen Kalau Mau Menggugat
Sumber solar ini sudah pasti didapat dari oknum-oknum yang bermain dengan surat rekomendasi tadi.
“Bukti nyatanya itu solar yang dijual di pinggir jalan. Kok bisa dapat itu sementara beli di SPBU dibatasi pakai kartu kendali. Ini contoh realnya. Ini harus diperbaiki kalau mau lancar dan tepat sasaran pendistribusian BBM di lapangan,” kata Parulian, warga lainnya.(*)
Reporter: Eusebius Sara



