Jumat, 16 Januari 2026

“Tangkap dan Adili Pemilik PT ASL!” Seruan Keras Buruh di Depan Galangan Kapal

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ratusan buruh dari berbagai serikat yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Batam menggelar aksi unjuk rasa di depan kawasan galangan kapal PT ASL Shipyard, Batuaji. Foto. Eusebius Sara/ Batam Pos

batampos – Ratusan buruh dari berbagai serikat yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Batam menggelar aksi unjuk rasa di depan kawasan galangan kapal PT ASL Shipyard, Batuaji, Rabu (22/10/2025). Sekitar pukul 09.30 WIB, massa sudah memadati gerbang perusahaan dengan membawa spanduk besar berisi tuntutan mereka terkait insiden maut kapal Federal II beberapa waktu lalu.

Aksi ini merupakan buntut dari tragedi kecelakaan kerja di kawasan galangan PT ASL yang menewaskan 13 pekerja dan puluhan luka bakar. Dalam aksi tersebut, buruh menuntut penegakan keselamatan kerja (K3), penghapusan sistem kerja outsourcing, serta meminta pertanggungjawaban penuh dari manajemen dan pemilik perusahaan.

Ketua Konsulat Cabang FSPMI Kota Batam, Yapet Ramon, dalam orasinya menegaskan bahwa PT ASL telah melakukan kebohongan publik terkait hasil audit kecelakaan. “ASL ini sudah melakukan pembohongan. Mereka menyewa auditor dari Jakarta, sementara hasil audit itu belum tentu benar karena penyelidikan Labfor Mabes Polri masih berjalan. Ini jelas kejahatan yang terorganisir. Nyawa manusia dijadikan permainan,” ujarnya lantang.

Baca Juga: Kecelakaan PT ASL Bukan yang Pertama, DPRD: Harus Ada Sanksi Tegas!

Yapet menduga, hasil audit yang cepat keluar itu sengaja dibuat untuk mengejar klaim asuransi kapal. “Kami curiga audit ini untuk kejar asuransi. Ini berbahaya kalau dibiarkan. Nyawa manusia tidak boleh dijadikan alat mencari keuntungan,” tegasnya.

Sementara itu ketua PC SPL FSPMI Kota Batam Suprapto, menyerukan agar aparat penegak hukum menindak tegas pemilik PT ASL. “Jangan melakukan kebohongan untuk menutupi kebohongan lainnya. Nyawa manusia tak bisa dibayar dengan apapun. Kami tidak ingin PT ASL tutup, tapi harus ada pengurusan secara tuntas. Tangkap dan adili pemilik ASL, karena ini sudah kelewatan,” ucapnya disambut sorak dukungan dari peserta aksi.

Menurut Suprapto, selama ini setiap terjadi kecelakaan kerja, yang disalahkan selalu pekerja atau pihak subcon, padahal tanggung jawab utama ada di pemilik dan main contractor. “Pemilik berlindung di balik bawahannya. Kami tidak akan biarkan aktivitas di perusahaan ini berjalan sampai audit menyeluruh selesai,” tegasnya lagi. Ia juga menyinggung dugaan penimbunan limbah yang pernah dilakukan perusahaan tersebut.

Sekitar pukul 11.00 WIB, perwakilan buruh diterima pihak manajemen PT ASL untuk berdialog di dalam kawasan perusahaan. Dalam pertemuan itu, Audrie, General Manager PT ASL, menjelaskan bahwa pihaknya belum mengetahui hasil audit yang disebut-sebut telah keluar. “Kami belum bisa memastikan karena tim Labfor Mabes Polri masih bekerja di lokasi kapal. Kami tidak tahu soal laporan audit itu karena lokasi masih police line,” ujarnya.

Audrie juga menegaskan bahwa proses investigasi masih ditangani pihak kepolisian, dan perusahaan tidak ingin mendahului hasil penyelidikan. “Kami tidak mendahului polisi. Koordinasi dengan pengawas masih berjalan,” tambahnya. Namun, pernyataan tersebut langsung menuai reaksi keras dari perwakilan buruh yang menilai keterangan manajemen tidak jujur.

“Korban meninggal bukan satu dua orang, tapi puluhan! Jangan main-main dengan nyawa manusia,” teriak salah satu orator dari atas mobil komando. Massa pun mendesak agar PT ASL dan seluruh pihak terkait membuka fakta sebenarnya atas penyebab ledakan kapal Federal II.

Aksi yang dikawal ratusan personel gabungan dari Polresta Barelang, Polda Kepri, dan Polsek Batuaji itu berjalan aman dan tertib. Usai dialog yang berlangsung panas, buruh membubarkan diri secara tertib dengan komitmen akan terus mengawal proses hukum dan audit hingga tuntas.

Sementara Kapolresta Barelang Kombes Pol Zaenal Arifin ketika dikonfirmasi mengakui proses penyelidikan masih terus berlanjut kasus kapal Federal II ini. Tim labfor masih bekerja dan sudah 22 saksi yang diperiksa. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update