
batampos – PT PLN Batam diam-diam menaikkan tarif listrik untuk pelanggan industri, bersamaan dengan lonjakan harga gas dari PGN Batam. Kenaikan dua komponen vital energi ini dinilai mengancam daya saing industri ekspor dan berpotensi memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Batam.
Kenaikan tarif listrik ini diumumkan PLN Batam melalui surat resmi bertanggal 14 Mei 2025 yang ditujukan kepada pelanggan industri. Dalam surat yang ditandatangani Senior Manager Unit Bisnis dan Pelayanan Pelanggan, Rizal Azhari, tarif listrik untuk pelanggan reguler industri Flexi Blok 3 naik dari Rp1.200 menjadi Rp1.525 per kilowatt-hour (kWh).
Kenaikan ini merujuk pada Peraturan Gubernur Kepri Nomor 21 Tahun 2017 tentang tarif tenaga listrik dan Keputusan Menteri ESDM No 77.K/MG.01/MEM.M/2025 yang menetapkan harga gas bumi sebesar 7 dolar AS per MMBtu. Sebelumnya, harga gas dari PGN Batam berada di angka US$5,9 per MMBtu.
Selain listrik, harga gas industri juga mengalami lonjakan signifikan. PGN Batam terpaksa mengalihkan pasokan dari gas pipa Sumatera-Jawa Barat ke gas alam cair (LNG) akibat habisnya kontrak pasokan. Harga LNG yang dipatok pemerintah kini sebesar US$16,8 per MMBtu, melonjak dua kali lipat dibanding harga sebelumnya sekitar US$8.
Baca Juga: Usep RS, Komisaris PLN Batam, Dukung Inisiatif Penyesuaian Harga Gas
Kondisi ini membuat pelaku industri tercekik. Ketua Apindo Kepri, Stanly Rocky, menyebut lonjakan tarif ini sudah sangat memberatkan sektor industri di Batam.
“PLN awal tahun melakukan penyesuaian tarif, dan sekarang bulan Mei sudah melakukan penyesuaian lagi. Industri sangat dibebankan, PLN setahun naik tarif dua kali. PGN gas juga naik dari USD 8 menjadi USD 16,” katanya, Rabu (21/5).
Dia menambahkan, dengan dua kali penyesuaian dalam setahun, tarif listrik untuk pelanggan Flexi Blok 3 sudah naik hampir 30 persen. Ini belum termasuk lonjakan harga gas dari PGN yang mencapai 100 persen.
“Dampaknya, biaya operasional meningkat lebih kurang 30 persen, itu baru dari penyesuaian tarif PLN. Belum lagi dari PGN. Ini akan memperburuk situasi industri, bisa sampai terjadi PHK untuk meringankan beban,” ujarnya.
Menurut Stanly, situasi ekonomi global seperti perang dagang dan tarif resiprokal juga turut memperparah tekanan terhadap sektor industri, khususnya yang mengandalkan pasar ekspor.
“Kita sudah terpukul dengan pasar global. Sekarang biaya energi naik drastis, bagaimana kita bisa bersaing? Produk kita kalah harga, pabrik bisa tutup,” kata dia.
Baca Juga: PLN Batam Peringati Hari Kebangkitan Nasional
Apindo Kepri mendesak agar Pemerintah Kota (Pemko) Batam turun tangan menjembatani persoalan ini. Pihaknya berharap ada intervensi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan pelaku industri kepada pemerintah pusat.
“Kami minta Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam bisa membantu komunikasi ke pusat agar ada peninjauan tarif ini. Kalau dibiarkan, Batam bisa kehilangan investor,” kata dia.
PLN dan PGN hingga kini belum memberikan penjelasan terbuka ke publik mengenai rencana kenaikan tarif yang berdampak besar terhadap industri. Padahal, keberlanjutan ekonomi Batam sangat bergantung pada sektor manufaktur dan ekspor.
Dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya energi yang berbasis mata uang asing turut memukul biaya produksi. Hal ini menambah beban berat di tengah perlambatan ekonomi global.
Pelaku industri kini berada di persimpangan antara menanggung beban produksi yang kian mahal atau memangkas operasional, termasuk jumlah tenaga kerja. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi iklim investasi Batam ke depan. (*)
Reporter: Arjuna



